artikel biofisika alergi dengan fisika kuantum – ARSBLOG.ID
Sat. Apr 17th, 2021

ARSBLOG.ID

BERBAGI DAN MENGINSPIRASI

artikel biofisika alergi dengan fisika kuantum

4 min read


Terapi Pengobatan Alergi dengan Fisika Kuantum berdasarkan Prinsip Kerja Sistem Imunitas Tubuh Manusia
Alergi atau yang dalam bahasa ilmiah disebut hipersensitivitas tipe I adalah suatu kegagalan kekebalan tubuhdi mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya imunogenik(antigenik). Dengan kata lain, tubuh manusia bereaksi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing dan berbahaya, padahal sebenarnya tidak untuk orang normal. Bahan-bahan yang menyebabkan hipersensitivitas tersebut disebut alergen. Sistem imun kehilangan kemampuan untuk membedakan sel tubuh dengan sel asing sehingga sistem imun akan menyerang sel tubuh sendiri. Namun, beberapa tahun belakangan telah dikembangkan sebuah alat yang bernama bicom atau bioresonansi yang dapat menyembuhkan alergi dengan konsep fisika kuantum.
Banyak perdebatan tentang metode ini, karena metode ini berbeda dengan metode dalam ilmu kedokteran. Dalam terapi medis pada umumnya mengunakan dasar ilmu imunopatofisiologi yang dapat dijelaskan dengan pendekatan biomolekular. Sedangkan terapi bioresonansi adalah pengobatan yang menggunakan pendekatan ilmu fisika gelombang atau teori kuantum. Resonansi (getaran) adalah satu fenomena dalam fisika. Resonansi inilah yang dikatakan dapat dipakai untuk mendeteksi dan mengobati alergi. Teori kuantum yang ada itu dapat dikaitkan dikaitkan dengan berbagai peyakit termasuk penyakit yang diakibatkan alergi. Teori yang tidak lazim di bidang kedokteran yang dianut adalah setiap sel dalam tubuh manusia selalu berkomunikasi satu sama lain pada frekuensi tertentu. Jika komunikasi tersebut berjalan harmonis, berarti orang itu berada dalam kondisi sehat. Tapi jika masuk toksin atau benda tertentu yang bisa menyebabkan alergi, maka pola frekuensinya akan terganggu dan menyebabkan terganggunya fungsi organ tubuh. Secara ilmiah teori tersebut sangat jauh menyimpang dari teori dasar mekanisme terjadinya alergi.
Seperti yang kita ketahui mekanisme kerja dari sistem imun kita yaitu pada saat ada antigen (benda asing yang masuk ke dalam tubuh) kita  terdeteksi, maka beberapa tipe sel akan bekerjasama untuk mencari tahu atau mengidentifikasi siapa mereka dan kemudian sel-sel yang berkomunikasi tersebut akan memberikan respons. Sel-sel ini memicu limfosit B untuk memproduksi antibodi, suatu protein khusus yang mengarahkan kepada suatu antigen spesifik.
Antibodi sendiri bisa menetralisir toksin yang diproduksi dari berbagai macam organisme, dan juga antibodi bisa mengaktivasi kelompok protein yang disebut komplemen yang merupakan bagian dari sistem imun dan membantu menghancurkan bakteri, virus, ataupun sel yang terinfeksi.
Menurut beberapa ahli mengatakan bahwa pada situasi orang yang normal maka sistem imun akan terus berkomunikasi dengan sel-sel imunitas dalam tubuh kita, ketika sel berkomunikasi maka pada saat itu ada frekuensi yang ditimbulkan oleh interaksi mereka. Namun, pada penderita alergi terdapat komunikasi antar sel imun yang kurang tertata dengan baik karena pola frekuensi mereka terganggu, sehingga ketika ada benda asing masuk maupun benda asing itu baik dan tidak membahayakan bagi tubuh maka sistem imun ini akan segera mengirim pesan kepada sel-sel imun untuk segera menanganinya.
Berdasarkan proses interaksi sel-sel imun tersebut maka dibuatlah alat terapai Bioresonansi untuk menangani penyakit alergi tersebut. Alat yang digunakan dalam terapi bioresonansi disebut BICOM (Bio Communication) 2000. Alat ini ditemukan oleh Hans Brugemann dari Jerman sekitar tahun 1976, dan dipopulerkan oleh Dr Peter Schumacher untuk menyembuhkan berbagai gangguan kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan alergi.
Berdasarkan referensi alat ini dikatakan mudah dugunakan. Pada proses deteksi dan penyembuhan alergi, penderita alergi akan duduk di kursi atau berbaring di dekat BICOM 2000. Dari alat tersebut, akan terdapat kabel yang dihubungkan ke elektroda, elektroda ini berupa bola yang dipegang pasien. Dan pada bantalan tempat duduk atau tempat berbaringnya sang pasien, terdapat kabel lain yang terhubung ke mesin tersebut.
Selanjutnya, frekuensi gelombang alergen atau pemicu alergi akan ditangkap oleh BICOM 2000 ini. Seperti pada bayangan cermin yang sering kita lihat, gelombang ini dibalik dan menghasilkan pola gelombang yang berguna menyembuhkan alergi. Alat ini mengalirkan gelombang yang dapat memperbaiki komunikasi yang berlebihan pada sistem imun dengan memperbaiki pola frekuensi interaksi antar sel tersebut, sehingga sel imun dapat berkomunikasi dengan baik kembali seperti orang normal.
“Setelah terapis memasukkan program penyembuhan yang akan dilakukan dan menekan tombol start, maka proses penyembuhan pun berjalan. Setelah selesai, mesin akan mati dengan sendirinya. Lamanya waktu terapi berkisar antara 15-30 menit,” kata Dr. Erica Lukman, SpTHT-KL,MQIH yang mempraktikkan terapi ini di kliniknya, Panacea Clinic Balikpapan.
Menurut Dr. Erica, penyembuhan alergi dengan terapi bioresonansi ini tidak menimbulkan rasa sakit. Karena proses penyembuhannya dilakukan tanpa pemberian obat-obatan dan suntikan. Disamping itu, terapi bioresonansi juga dapat dilakukan oleh semua usia, bahkan terhadap bayi sekalipun.
“Umumnya, pengobatan medis menggunakan pendekatan ilmu biologi. Sedangkan terapi bioresonansi adalah pengobatan yang menggunakan pendekatan ilmu fisika kuantum, yaitu ilmu fisika yang berdasarkan pada teori Einstein,” ucap Dr Erica.
Namun, dapat kita ketahui bahwa alat ini pada dasarnya merupakan alat yang berdasarkan atas prinsip dasar ilmu biologi tentang imunitas yang kemudian dipelajari bagaimana sel-sel imun berinteraksi dan bagaimana sel imun penderita alergi berinteraksi sehingga pada akhirnya ditemukan pola frekuensi yang ada pada komunikasi antar sel imun tersebut yang ternyata pada penderita alergi terdapat pola frekuensi yang tidak normal dan alat ini membantu untuk membuat komunikasi itu kembali normal dengan memperbaiki frekuensinya.
Hal ini pun telah diterangkan secara singkat oleh Dr. Erica yang mengatakan “teori dalam fisika kuantum yang mendasari terapi ini adalah, bahwa sebenarnya setiap sel dalam tubuh kita selalu berkomunikasi satu sama lain pada frekuensi tertentu. Jika komunikasi tersebut berjalan harmonis, berarti orang itu berada dalam kondisi sehat. Namun jika toksin atau benda tertentu yang bisa menyebabkan alergi masuk ke tubuh, maka pola frekuensinya akan terganggu dan menyebabkan terganggunya fungsi organ tubuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved.ARSBLOG.ID | Newsphere by AF themes.