Semua Tentang Kalimat Efektif – ARSBLOG.ID
Sun. Sep 19th, 2021

ARSBLOG.ID

BERBAGI DAN MENGINSPIRASI

Semua Tentang Kalimat Efektif

6 min read


Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan penutur/penulisnya secara tepat sehingga dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Efektif dalam hal ini adalah ukuran kalimat yang memiliki kemampuan menimbulkan gagasan atau pikiran pada pendengar atau pembaca. Dengan kata lain, kalimat efektif  adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pndengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan lengkap seperti apa yang dimasud oleh penulis atau pembicaranya.
Ciri – Ciri Kalimat Efektif
Untuk dapat mencapai keefektifan, suatu kalimat harus memenuhi paling tidak enam syarat berikut, yaitu adanya:
a)      Kesatuan
Yang dimaksud dengan kesatuan adalah terdapatnya satu ide pokok dalam sebuah kalimat. Dengan satu ide itu kalimat boleh panjang atau pendek, menggabungkan lebih dari satu kesatuan, bahkan dapat mempertentangkan satu sama lainnya, asalkan ide atau gagasan kalimatnya tunggal. Penutur tidak boleh menggabungkan dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan sama sekali ke dalam suatu kalimat.
Contoh kalimat yang tidak jelas kesatuan gagasannya :
Dalam pembangunan sangat berkaitan dengan stabilitas politik. (memakai kata depan yang salah sehingga gagasan kalimat menjadi kacau).
Contoh kalimat yang jelas kesatuannya :
Pembangunan sangat berkaitan dengan politik.
b)      Kepaduan (Koherensi)
Yang dimaksud koherensi adalah hubungan yang padu antara unsur-unsur pembentuk kalimat. Yang termasuk unsur pembentuk kalimat adalah kata, frasa, klausa, serta tanda baca yang membentuk S-P-O-Pel-Ket dalam kalimat.
Contoh kalimat yang unsurnya tidak koheren :
Saya punya rumah baru saja diperbaiki. (struktur tidak benar/rancu)
Contoh kalimat yang unsur – unsurnya koheren :
Rumah saya baru saja diperbaiki.
c)      Kepararelan
Yang dimaksud dengan keparalelan atau kesejajaran adalah terdapatnya unsur-unsur yang sam derajatnya, sama pola atau susunan kata dan frasa yang dipakai di dalam kalimat. Umpamanya dalam sebuah perincian , unsur pertama menggunakan verba, unsur kedua dan seterusnyajuga verba. Jika bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk berikutnya juga harus nomina.
Contoh kesejajaran atau pararelisme yang salah :
Kakakmu menjadi dosen atau pengusaha?
Contoh kesejajaran atau pararelisme yang benar :
Kakakmu sebagai dosen atau sebagai pengusaha?
d)     Penekanan
Yang dimaksud dengan penekanan adalah suatu perlakuan khusus menonjolkan bagian kalimat sehingga berpengaruh terhadap makna kalimat secara keseluruhan. Cara yang dipakai untuk memberi perlakuan khusus pada kata-kata tertentu ada beberapa, yaitu:
·            Dengan meletakkan kata yang ditonjolkan itu di awal kalimat,
·            Dengan melakukan pengulangan kata ( repetisi),
·            Dengan melakukan pengontrasan kata kunci,
·            Dengan menggunakan partikel/penegas.
Contoh penekanan dengan menempatkan kata pada awal kalimat:
Ujian akhir semester kita tempuh pada bulan Desember. (bukan ujian tengah semester)
Contoh penekanan dengan pengulangan kata:
Saya senang melihat panorama alam yang indah; saya senang melihat lukisan yang indah; dan saya juga senang, melihat hasil seni ukir yang indah.
Contoh  penekanan dengan pengontrasan kata kunci:
Penduduk desa itu tidak menghendaki bantuan yang berifat sementara, tetapi bantuan yang bersifat permanen.
Contoh penekanan dengan menggunakan partikel penegas:
Hendak pulang pun hari sudah gelap dan hujan pula.
e)      Kehematan
Yang dimaksud dengan kehematan ialah menghindari pemakaian kata yang tidak perlu. Hemat tidak bararti harus menghilangkan kata-kata yang dapat memperjelas arti kalimat. Hemat di sini berarti “ekonomis” tidak memakai kata-kata mubazir, tidak mengulang-ulang subjek, tidak menjamakkan kata yang sudah berbentuk jamak. Dengan hemat kata-kata, diharapkan kalimat menjadi padat berisi.
Contoh kalimat yang tidak hemat kata:
Agar supaya Anda dapat memperoleh nilai ujian yang memuaskan, Anda harus belajar dengan sebaik-baiknya.
Contoh kalimat yang hemat kata:
Agar Anda memperoleh nilai ujian yang memuaskan, belajarlah sebaik-baiknya.
f)       Kelogisan
Yang dimaksud dengan kelogisan ialah mengupayakan agar ide kalimat masuk akal. Logis dalam hal ini juga menuntut adanya pola piker yang sistematis (runtut/teratur dalam penghitungan angka dan penomoran). Sebuah kalimat yang sudah benar strukturnya, sudah benar pula pemakaian tanda baca, kata, dan frasa, dapat menjadi salah karena maknanya tidak masuk akal atau lemah dari segi logika.
Contoh kalimat yang lemah dari segi logika berbahasa :
·         Uang yang bertumpukituterdiriataspecahanratusan, puluhan, sepuluhribuan, limapuluhribuan, duapuluhribuan. (tidakruntutdalammerincisehinggalemahdarisegilogika).
·         Dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan, selesailah makalah ini tepat pada waktunya. (berarti “modal” untuk menyelesaikan makalah cukuplah ucapan syukur kepada Tuhan).
g)      Ketegasan
Ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan terhadap ide pokok dari kalimat. Untuk membentuk penekanan dalam suatu kalimat, ada beberapa cara, yaitu:
1.      Meletakkan kata yang ingin ditegaskan di awal kalimat
Contoh :
Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
2.      Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh :
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
3.      Melakukan pengulangan kata (repetisi)
Contoh :
Cerita itu begitu menarik, cerita itu sangat mengharukan.
4.      Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditegaskan.
Contoh :
Anak itu tidak bodoh, tetapi pintar.
5.      Mempergunakan partikel penekanan (penegasan), seperti: partikel –lah, -pun, dan –kah.
Contoh :
Dialah yang harus bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas ini.

         Syarat – Syarat Kalimat Efektif
Syarat-syarat kalimat efektif adalah sebagai berikut:
a)      Secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
b)      Mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.
         Struktur Kalimat
Struktur kalimat efektif haruslah benar. Kalimat itu harus memiliki kesatuan bentuk, sebab kesatuan bentuk itulah yang menjadikan adanya kesatuan arti. Kalimat yang strukturnya benar tentu memiliki kesatuan bentuk dan sekaligus kestuan arti. Sebaliknya kalimat yang strukturnya rusak atau kacau, tidak menggambarkan kesatuan apa-apa dan merupakan suatu pernyataan yang salah.
Jadi, kalimat efektif selalu memiliki struktur atau bentuk yang jelas. Setiap unsur yang terdapat di dalamnya (yang pada umumnya terdiri dari kata) harus menempati posisi yang jelas dalam hubungan satu sama lain. Kata-kata itu harus diurutkan berdasarkan aturan-aturan yang sudah dibiasakan. Tidak boleh menyimpang, aalagi bertentangan. Setiap penyimpangan biasanya akan menimbulkan kelainan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat pemakai bahasa itu.
Misalnya, Anda akan menyatakan Saya menulis surat buat papa. Efek yang ditimbulkannya akan sangat lain, bila dikatakan:
1.    Buat Papa menulis surat saya.
2.    Surat saya menulis buat Papa.
3.    Menuis saya surat buat Papa.
4.    Papa saya buat menulis surat.
5.    Saya Papa buat menulis surat.
6.    Buat Papa surat saya menulis.
Walaupun kata yang digunakan dalam kalimat itu sama, namun terdapat kesalahan. Kesalahan itu terjadi karena kata-kata tersebut (sebagai unsur kalimat) tidak jelas fungsinya. Hubungan kata yang satu dengan yang lain tidak jelas. Kata-kata itu juga tidak diurutkan berdasarkan apa yang sudah ditentukan oleh pemakai bahasa.
Demikinlah biasanya yang terjadi akibat penyimpangan terhadap kebiasaan struktural pemakaian bahasa pada umumnya. Akibat selanjutnya adalah kekacauan pengertian. Agar hal ini tidak terjadi, maka si pemakai bahasa selalu berusaha mentaati hukum yang sudah dibiasakan.

        Unsur – Unsur Kalimat
Unsur kalimat adalah fungsi sintaksis yang daam buku-buku tata bahasa Indonesia lama lazim disebut jabata kata dan kini disebut peran kata dalam kalimat, yaitu subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket). Kalimat bahasa Indonesia baku sekurang-kurangnya terdiri atas dua unsur, yakni subjek dan predikat. Unsur yang lain (objek, pelengkap, dan keterangan) dalam suatu kalimat dapat wajib hadir, tidak wajib hadir, atau wajib tidak hadir.
a)      Predikat
Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberitahu melakukan (tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana subjek (pelaku/tokoh atau benda di dalam suatu kalimat). Selain memberitahu tindakan atau perbuatan subjek (S), P dapat pula menyatakan sifat, situasi, status, ciri, atau jatidiri S. termasuk juga sebagai P dalam kalimat adalah pernyataan tentang jumlah sesuatu yang dimiliki oleh S. predikat dapat juga berupa kata atau frasa, sebagian besar berkelas verba atau adjektiva, tetapi dapat juga numeralia, nomina, atau frasa nominal. Perhatikan contoh berikut:
1.      Ibu sedang tidur siang.
2.      Kota Jakarta sedang tidak aman.
3.      Robby mahasiswa baru.
Kata-kata yang dicetak tebal dalam kalimat di atas adalah P.Kelompok kata sedang tidur siang pada kalimat (a) memberitahukan melakukan apa ibu,dalam keadaan tidak aman pada kalimat (b) memberitahukan situasi kota Jakarta,mahasiswa baru pada kalimat (c) memberitahukan status Robby.
b)      Subjek
Subjek (S) adalah bagian kalimat menunjukkan pelaku, tokoh, sosok (benda), sesuatu hal, suatu masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan. Subjek biasanya diisi oleh jenis kata/frasa benda (nominal), klausa, atau frasa verbal.
Contoh :
Ayahku sedang melukis.
Dalam bahasa Indonesia, setiap kata, frasa, klausa pembentuk S selalu merujuk pada benda (konkret atau abstrak). Selain itu, S dapat juga dikenali dengan cara bertanya dengan memakai kata tanya siapa (yang)… atau apa (yang)… kepada P. Kalau ada jawaban yang logis atas pertanyaan yang diajukan, itulah S. Jika ternyata jawabannya tidak ada dan atau tidak logis berarti kalimat itu tidak mempunyai S.
c)      Objek
Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. Objek pada umumnya diisi oleh nomina, frasa nominal, atau klausa. Letak O selalu di belakang P yang berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut wajib hadirnya O. Objek dalam kalimat aktif dapat berubah menjadi S jika kalimatnya dipasifkan.
Contoh verba transitif :
Ibu sedang memasak …. (membutuhkan objek)
Contoh verba intransitif :
Ayah sedang mandi. (tidak membutuhkan objek)
Contoh kalimat aktif dan pasif yang merubah kedudukan objek menjadi subjek:
Orang itu menipu adik saya. (O)
Adik saya ditipu oleh orang itu. (S)
d)     Pelengkap
Pelengkap (P) atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi P. letak Pel umumnya di belakang P yang berupa verba. Posisi seperti itu juga ditempati oleh O, dan jenis kata yang mengisi Pel dan O juga sama, yaitu dapat berupa nomina, frasa nominal, atau klausa. Namun, antara Pel dan O terdapat perbedaan.
Contoh :
Ketua MPR membacakan Pancasila.
       S                  P                  O

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved.ARSBLOG.ID | Newsphere by AF themes.