Makalah Tenaga Kependidikan – ARSBLOG.ID
Sun. Sep 19th, 2021

ARSBLOG.ID

BERBAGI DAN MENGINSPIRASI

Makalah Tenaga Kependidikan

17 min read

Tenaga Kependidikan
Undang-undang No. 20 Pasal 1 Ayat (5) tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan.
Dalam undang-undang tersebut dinyatakan bahwa Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.
                UU No. 20 Pasal 39 Ayat (1) tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan bahwa: Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi,  pendidikan pada satuan pendidikan.
Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau: Tenaga kependidikan adalah tenaga/pegawai yang bekerja pada satuan pendidikan selain tenaga pendidik. Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.
UU No. 20 Pasal 40 Ayat (2): Pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban:
a.       Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis;
b.       Mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan
c.       Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Standar Kualifikasi Tenaga Kependidikan:
1. Kepala Tenaga Administrasi SD/MI/SDLB
a. Berpendidikan minimal lulusan SMK atau yang sederajat, program studi yang relevan dengan pengalaman kerja sebagai tenaga administrasi sekolah/madrasah minimal 4 (empat) tahun.
b. Memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi sekolah/madrasah dari lembaga yang ditetapkan oleh pemerintah.
2.  Kepala Tenaga Administrasi SMP/MTs/SMPLB
a. Berpendidikan minimal lulusan D3 atau yang sederajat, program studi yang relevan, dengan pengalaman kerja sebagai tenaga administrasi sekolah/ madrasah minimal 4 (empat) tahun.
b. Memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi sekolah/madrasah dari lembaga yang ditetapkan oleh pemerintah.
3.  Kepala Tenaga Administrasi SMA/MA/SMK/MAK/SMALB
a. Berpendidikan S1 program studi yang relevan dengan pengalaman kerja sebagai tenaga administrasi sekolah/madrasah minimal 4 (empat) tahun, atau D3 dan yang sederajat, program studi yang relevan, dengan pengalaman kerja sebagai tenaga administrasi sekolah/madrasah minimal 8 (delapan) tahun.
b. Memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi sekolah/madrasah dari lembaga yang ditetapkan oleh pemerintah.
4.  Pelaksana Urusan Administrasi Kepegawaian
Berpendidikan minimal lulusan SMA/MA/SMK/MAK atau yang sederajat, dan dapat diangkat apabila jumlah pendidik dan tenaga kependidikan minimal 50 orang.
5.  Pelaksana Urusan Administrasi Keuangan
Berpendidikan minimal lulusan SMK/MAK, program studi yang relevan, atau SMA/MA dan memiliki sertfikat yang relevan.
6.  Pelaksana Urusan Administrasi Sarana dan Prasarana
Berpendidikan minimal lulusan SMA/MA/SMK/MAK atau yang sederajat.
7.  Pelaksana Urusan Administrasi Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Berpendidikan minimal lulusan SMA/MA/SMK/MAK atau yang sederajat, dan dapat diangkat apabila sekolah/madrasah memiliki minimal 9 (sembilan) rombongan belajar.
8.  Pelaksana Urusan Administrasi Persuratan dan Pengarsipan
Berpendidikan minimal lulusan SMK/MAK, program studi yang relevan.
9.  Pelaksana Urusan Administrasi Kesiswaan
Berpendidikan minimal lulusan SMA/MA/SMK/MAK atau yang sederajat dan dapat diangkat apabila sekolah/madrasah memiliki minimal 9 (sembilan) rombongan belajar.
10. Pelaksana Urusan Administrasi Kurikulum
Berpendidikan minimal lulusan SMA/MA/SMK/MAK atau yang sederajat dan diangkat apabila sekolah/madrasah memiliki minimal 12 rombongan belajar.
11. Pelaksana Urusan Administrasi Umum untuk SD/MI/SDLB
Berpendidikan minimal SMK/MAK/SMA/MA atau yang sederajat.
12. Petugas Layanan Khusus
a. Penjaga Sekolah/Madrasah berpendidikan minimal lulusan SMP/MTs atau yang sederajat.
b. Tukang Kebun berpendidikan minimal lulusan SMP/MTs atau yang sederajat dan diangkat apabila luas lahan kebun sekolah/madrasah minimal 500 m2 .
c. Tenaga Kebersihan berpendidikan minimal lulusan SMP/MTs atau yang sederajat.
d. Pengemudi berpendidikan minimal lulusan SMP/MTs atau yang sederajat, memiliki SIM yang sesuai, dan diangkat apabila sekolah/madrasah memiliki kendaraan roda empat.
e. Pesuruh berpendidikan minimal lulusan SMP/MTs atau yang sederajat
2.2  Macam-macam Tenaga Kependidikan dan Tugasnya
2.2.1       Pendidik dan pengajar
UU No. 20 Pasal 1 Ayat (6) Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi dan berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik yang dimaksudkan di atas adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
 Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi:
1.       Kompetensi pedagogik adalah seperangkat kemampuan dan keterampilan yang berkaitan dengan interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa dalam kelas. Kompetensi pedagogik meliputi, kemampuan guru dalam menjelaskan materi, melaksanakan metode pembelajaran, memberikan pertanyaan, menjawab pertanyaan, mengelola kelas, dan melakukan evaluasi.
2.       Kompetensi kepribadian adalah seperangkat kemampuan dan karakteristik personal yang mencerminkan realitas sikap dan perilaku guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi kepribadian ini melahirkan ciri-ciri guru diantaranya, sabar, tenang, tanggung jawab, demokratis, ikhlas, cerdas, menghormati orang lain, stabil, ramah, tegas, berani, kreatif, inisiatif, dll.
3.       Kompetensi profesional adalah seperangkat kemampuan dan keterampilan terhadap penguasaan materi pelajaran secara mendalam, utuh dan komprehensif. Guru yang memiliki kompetensi profesional tidak cukup hanya memiliki penguasaan materi secara formal (dalam buku panduan) tetapi juga harus memiliki kemampuan terhadap materi ilmu lain yang memiliki keterkaitan dengan pokok bahasan  mata pelajaran tertentu.
4.       Kompetensi sosial adalah seperangkat kemampuan dan keterampilan yang terkait dengan hubungan atau interaksi dengan orang lain. Artinya, guru harus dituntut memiliki keterampilan berinteraksi dengan masyarakat khususnya dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan problem masyarakat. Dalam realitas masyarakat, guru masih menjadi sosok elit masyarakat yang dianggap memiliki otoritas moral cukup besar, salah satu konsekuensi agar peran itu tetap melekat dalam diri guru, maka guru harus memiliki kemampuan hubungan dan komunikasi dengan orang lain. 
UU No.20 Tahun 2003 Pasal 39 Ayat (2) :
Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.
Tanggung Jawab Pengajar :
1.       Merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran
2.       Menilai hasil pembelajaran
3.       Melakukan pembimbingan dan pelatihan
4.       Melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat
2.2.2        Pustakawan
Pustakawan ialah seseorang yang bekerja di perpustakaan dan membantu orang menemukan buku, majalah, dan informasi lain. Pada tahun 2000-an, pustakawan juga mulai membantu orang menemukan informasi menggunakan komputer, basis data elektronik, dan peralatan pencarian di internet. Terdapat berbagai jenis pustakawan, antara lain pustakawan anak, remaja, dewasa, sejarah, hukum, dsb. Pustakawan wanita disebut sebagai pustakawati. Untuk menjadi seorang pustakawan, seseorang perlu menempuh pendidikan tentang perpustakaan setingkat S2 maupun D2.
Kompetensi yang harus dimiliki oleh pustakawan:
1. Kompetensi Manajerial
    a. Melaksanakan kebijakan
    b. Melakukan perawatan koleksi
    c. Melakukan pengelolaan anggaran dan keuangan
2. Kompetensi Pengelolaan Informasi
    a. Mengembangkan koleksi perpustakaan
    b. Melakukan pengorganisasian informasi
    c. Memberikan jasa dan sumber informasi
     d. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi
3.  Kompetensi Kependidikan
    a. Memiliki wawasan kependidikan
    b. Mengembangkan keterampilan memanfaatkan informasi
    c. Melakukan promosi perpustakaan
    d. Memberi bimbingan literasi informasi
4. Kompetensi Kepribadian
    a. Memiliki integritas yang tinggi
    b. Memiliki etos kerja yang tinggi
    c. Kompetensi Sosial
    d. Membangun hubungan social
    e. Membangun komunikasi
5. Kompetensi Pengembangan Profesi
    a. Mengembangkan ilmu
    b. Menghayati etika profesi
    c. Menunjukkan kebiasaan membaca
Tanggung Jawab Umum Pustakawan:
1.       Melakukan perawatan koleksi.
2.       Mengembangkan koleksi perpustakaan.
3.       Memberikan bimbingan literasi informasi.
4.       Menunjukkan kebiasaan membaca.
2.2.3        Kepala Satuan Pendidikan
Kepala satuan pendidikan yaitu orang yang diberi wewenang dan tanggung jawab untuk memimpin satuan pendidikan tersebut. Kepala Satuan Pendidikan harus mampu melaksanakan peran dan tugasnya sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, inovator, motivator, figur dan mediator.
Penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas sangat terkait erat dengan keberhasilan peningkatan kompetensi dan profesionalisme Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) tanpa mengabaikan faktor-faktor lainnya seperti sarana dan prasarana serta pembiayaan. Kepala satuan pendidikan merupakan salah satu PTK yang posisinya memegang peran sangat signifikan dan strategis dalam meningkatkan profesionalisme guru dan mutu pendidikan di sekolah. Kegiatan seorang kepala satuan pendidikan adalah kegiatan dalam menyusun program, melaksanakan program, evaluasi hasil pelaksanaan program, dan melaporkan: pelaksanaan program. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru Pasal 15 ayat 3 menyatakan bahwa guru yang telah bersertifikat profesi dapat diangkat menjadi kepala satuan pendidikan dengan beban kerja satuan pendidikan. Implementasi tugas tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah, Pasal 12 yang secara garis besar dapat dirangkum dalam tiga aspek yaitu : usaha pengembangan sekolah / madrasah, peningkatan kualitas sekolah /madrasah berdasarkan 8 (delapan) standar nasional pendidikan, dan usaha pengembangan profesionalisme sebagai kepala sekolah /madrasah.
Menurut E. Mulyasa, kepala sekolah mempunyai 7 fungsi utama, yaitu:
1.    Kepala Sekolah Sebagai Educator (Pendidik)        
Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru merupakan pelaksana dan pengembang utama kurikulum di sekolah. Kepala sekolah yang menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya tentu saja akan sangat memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya, sekaligus juga akan senantiasa berusaha memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat secara terus menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.
2.    Kepala Sekolah Sebagai Manajer
Dalam mengelola tenaga kependidikan, salah satu tugas yang harus dilakukan kepala sekolah adalah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan profesi para guru. Dalam hal ini, kepala sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi dan memberikan kesempatan yang luas kepada para guru untuk dapat melaksanakan kegiatan pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah, seperti: MGMP/MGP tingkat sekolah, atau melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan di luar sekolah, seperti kesempatan melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang diselenggarakan pihak lain.
3.    Kepala Sekolah Sebagai Administrator
Khususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan, bahwa untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak lepas dari faktor biaya. Seberapa besar sekolah dapat mengalokasikan anggaran peningkatan kompetensi guru tentunya akan mempengaruhi terhadap tingkat kompetensi para gurunya. Oleh karena itu kepala sekolah seyogyanya dapat mengalokasikan anggaran yang memadai bagi upaya peningkatan kompetensi guru.
4.    Kepala Sekolah Sebagai Supervisor
                Untuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran, secara berkala kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode, media yang digunakan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam melaksanakan pembelajaran, tingkat penguasaan kompetensi guru yang bersangkutan, selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut tertentu sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran. Sebagaimana disampaikan oleh Sudarwan Danim mengemukakan bahwa  menghadapi kurikulum yang berisi perubahan-perubahan yang cukup besar dalam tujuan, isi, metode dan evaluasi pengajarannya, sudah sewajarnya kalau para guru mengharapkan saran dan bimbingan dari kepala sekolah mereka. Dari ungkapan ini, mengandung makna bahwa kepala sekolah harus betul-betul menguasai tentang kurikulum sekolah. Mustahil seorang kepala sekolah dapat memberikan saran dan bimbingan kepada guru, sementara dia sendiri tidak menguasainya dengan baik.
5.    Kepala Sekolah Sebagai Leader (Pemimpin)
Gaya kepemimpinan kepala sekolah seperti apakah yang dapat menumbuh-suburkan kreativitas sekaligus dapat mendorong terhadap peningkatan kompetensi guru? Dalam teori kepemimpinan setidaknya kita mengenal dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, seorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Mulyasa menyebutkan kepemimpinan seseorang sangat berkaitan dengan kepribadian, dan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin sifat-sifat sebagai barikut :  jujur; percaya diri; tanggung jawab; berani mengambil resiko dan keputusan; berjiwa besar; emosi yang stabil, dan teladan.
6.      Kepala Sekolah Sebagai Inovator
Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai innovator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan sekolah, dan mengembangkan model model pembelajaran yang inofatif. Kepalasekolah sebagai inovator akan tercermin dari cara cara ia melakukan pekerjaannya secara konstruktif, kreatif, delegatif, integratif, rasional, objektif, pragmatis, keteladanan
7.      Kepala Sekolah Sebagai Motivator
Sebagai motivator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, pengaturan suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif, dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan Pusat Sumber Belajar (PSB).
2.2.4        Teknisi Sumber Belajar
Teknisi Sumber Belajar adalah petugas yang perannya sebagai penyedia fasilitas yang di perlukan dalam proses belajar mengajar. Istilah Teknisi pada umumnya adalah seseorang yang menguasai bidang teknologi tertentu yang lebih banyak memahami teori bidang tersebut, seperti insinyur. Umumnya mereka lebih menguasai teknik, atau malah profesional dalam bidang itu. Pemahaman tingkat menengah atas teori dan teknik tingkat tinggi umumnya dikuasai oleh teknisi untuk menjadi ahli dalam hal peralatan tertentu. Ini bisa menjadi bagian proses (manufaktur) yang lebih besar.
Tugas Teknisi Sumber Belajar membantu kepala sekolah dalam kegiatan:
1.       Perencanaan pengadaan alat dan bahan untuk media sumber belajar.
2.        Menyusun jadwal dan tata tertib penggunaan media sumber belajar.
3.        Mengatur penyimpanan, pemeliharaan, dan perbaikan alat-alat sumber belajar.
4.        Membuat dan menyusun daftar alat-alat pembelajaran.
5.       Inventarisasi dan pengadministrasian peralatan pembelajaran.
6.       Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan penggunaan media sumber belajar secara berkala.
Syarat Teknisi Sumber Belajar:
Syarat teknisi sumber belajar Juga tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 38 Tahun 1992 Tentang Tenaga Pendidikan Khususnya pengadaan tenaga kependidikan yang bukan tenaga pendidik
Pasal 19
1.       Untuk dapat diangkat sebagai tenaga kependidikan yang bukan tenaga pendidik, yang bersangkutan harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Menteri, Menteri lain, atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen.
Pasal 20
1.       Tenaga kependidikan yang akan ditugaskan untuk bekerja sebagai pengelola satuan pendidikan dan pengawas pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dipilih dari kalangan guru.
2.       Tenaga kependidikan yang akan ditugaskan untuk bekerja sebagai pengelola satuan pendidikan dan penilik di jalur pendidikan luar sekolah dipilih dari kalangan tenaga pendidik.
3.       Calon tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipersiapkan melalui pendidikan khusus.
Pasal 21
1.       Tenaga kependidikan yang akan ditugaskan untuk bekerja sebagai pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar dipersiapkan melalui pendidikan khusus.
2.       Pelaksanaan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan olch Menteri, Menteri lain, atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen.
Pasal 22
1.       Pengangkatan dan penempatan tenaga kependidikan yang bukan tenaga pendidik pada satuan pendidikan yang disclenggarakan oleh Pemerintah dilakukan oleh Menteri, Menteri lain, atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen dengan memperhatikan keseimbangan antara penempatan dan kebutuhan serta ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi pegawai negeri.
2.       Pengangkatan dan penempatan tenaga kependidikan yang bukan tenaga pcndidik pada satuan pendidikan yang diselenggarakan olch masyarakat dilakukan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang bersangkutan dengan memperhatikan persyaratan yang ditetapkan oleh penyelenggara dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3.       Pemerintah dapat memberi bantuan kepada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan memperbantukan dan/atau mempekerjakan tenaga kependidikan yang bukan tenaga pendidik dan/atau membina tenaga kependidikan yang bukan tenaga pendidik.
2.2.5        Pelatih
Pelatih merupakan posisi yang penting dalam susksesnya suatu pengembangan profesional. Penguasannya terhadap materi latih tidak cukup untuk menjadi andalan bila tidak didampingi dengan beberapa keahlian lain. Keahlian lain ini berkaitan dengan pemahaman mengenai metode pembelajaran orang dewasa dan keterkaitan kegiatan belajar dalam pelatihan tersebut dengan kegiatan profesional para siswa latihnya selama ini. Selain itu pemahaman mengenai pengembangan karirnya sendiri juga menjadi salah satu kompetensi penting seorang pelatih yang sukses.
Berikut adalah beberapa kompetensi pelatih yang dapat menjadi bahan masukan bagi pelatih dan pengembang praktisi lainnya dalam usaha meningkatkan kualitas pelatihan:
1.       Keterampilan penggunaan A/V
Seorang pelatih semestinya terampil menggunakan alat-alat audio, visual maupun audio visual. Peralatan ini akan sangat membantu pelatih mengolah pembelajaran menjadi lebih menarik, lebih fokus dan dapat memacu motivasi belajar para trainee.
2.       Pemahaman pengetahuan pengembangan karir
Seorang  pelatih semestinya mengetahui prosedur dan tata laksana penngembangan karirnya sesuai dengan kebijakan di mana ia bekerja. Untuk seorang Pegawai Negeri Sipil yang bekerja sebagai pelatih di lembaga pemerintahan, peraturan yang berlaku sesuai dengan ketentuan pemerintah mengenai jabatannya di lembaga tempat ia bekerja. Untuk trainer yang bekerja di perusahaan swasta, pengembangan karirnya ditentukan oleh kebijakan perusahaan. Hal- hal yang berkaitan dengan pengembangan karirnya semestinya diketahui secara jelas, sehingga tidak menimbulkan masalah dalam kegiatannya melakukan pelatih maupun kebutuhan finansial dan masa depan karirnya.
3.       Keterampilan identifikasi: job, tugas dan peranan.
Seorang pelatih harus dengan cermat mengetahui wilayah kerjanya, tugas-tugas yang diembannya dan peranannya dalam tugas tersebut. Hal ini berkaitan dengan pertanggungjawabannya dari segi  pekerjaan dan secara moral.
4.       Keterampilan mengelola fasilitas
Fasilitas memegang peranan penting dalam keberhasilan sebuah pelatihan. Dengan pengetahuan pengelolaan fasilitas,s eorang pelatih dapat secara teratur menggunakan fasilitas tersebut, tanpa adanya kesulitan akibat kerusakan dini, kehilangan, sirkulasi yang tidak teratur, dan sebagainya. Untuk itu semestinya fasilitas pelatihan, baik hardware maupun software dikelola dengan baik dan penuh tanggung jawab oleh pelatih. Pengelolaan ini meliputi pengadaan, penyimpanan, perawatan, pelayanan/ sirkulasi, dan perbaikan.
5.       Keterampilan menciptakan model
Model adalah suatu pola (contoh, acuan, ragam, dan sebagainya) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan. Model dapat memperjelas ide atau gagasan, arahan, konsep dan sebagainya, sehingga orang lain dapat melaksanakan suatu pekerjaan sesuai dengan harapan si pembuat model. Seorang pelatih membutuhkan keterampilan menciptakan model sebagai suatu alat untuk mencitrakan idenya untuk dapat diikuti oleh para trainee (orang-orang yang mengikuti pelatihan).
6.       Pemahaman wilayah pelatihan dan pengembangan
Setiap pelatihan memiliki wilayah masing-masing. Seorang pelatih harus memahami wilayah pelatihan dan pengembangan yang ia lakukan. Dengan memahami wilayah pelatihan dan pengembangan itu, seorang pelatih dapat lebih dalam dan terarah menjalankan tugasnya dalam pelatihan tersebut.
7.       Pemahaman teknik pelatihan dan pengembangan
Ada beberapa teknik pelatihan dan pengembangan yang dapat diterapkan dalam kegiatan diklat. Teknik-teknik ini dituangkan ke dalam model-model pengembangan instruksional diklat, yang masing-masing memiliki orientasi berbeda. Orientasi model-model ini meliputi orientasi kelas, orientasi hasil, orientasi sistem, dan orientasi organisasi.
Pengetahuan mengenai berbagai teknik dan model pelatihan dan pengembangan ini memungkinkan seorang pelatih menyesuaikan orientasi pembelajaran diklat dengan teori-teori yanhg sesuai. Dengan demikian diharapkan proses pembelajaran diklat dapat berjalan dengan baik.
2.2.6        Pengawas
Surat Keputusan MENPAN Nomor 118 tahun 1996 yang diperbaharui dengan SK MENPAN Nomor 091/KEP/MEN.PAN/10/2001 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya dinyatakan:
·         Pengawas sekolah adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwewenang untuk melakukan pengawasan pendidikan pada satuan pendidikan prasekolah, sekolah dasar, dan sekolah menengah (pasal 1 ayat 1).
·         Pengawas sekolah adalah pejabat fungsional yang berkedudukan sebagai pelaksana teknis dalam melakukan pengawasan pendidikan terhadap sejumlah sekolah tertentu yang ditunjuk/ditetapkan (pasal 3 ayat 1)
Tugas dan tanggungjawab pengawas:
·         Mengawal disiplin pelajar.
·         Mementingkan image diri dan menunjukkan teladan yang baik kepada pelajar dan pengawas junior.
·         Menjaga image dan nama baik sekolah.
·         Membantu guru, pembantu kepada para guru dari segi penyampaian arahan atau maklumat kepada rakan-rakan pelajar.
·         Memastikan keceriaan sekolah dijaga.
·         Mematuhi peraturan sekolah sambil menguatkuasakannya.
·         Memimpin rekan-rekan pelajar.
·         Mencegah kes jenayah di sekolah.
·         Menghormati guru.
·         Tidak memberat sebelah dalam tugas harian.
·         Serius dan bersikap positif semasa menjalankan setiap tugas, sentiasa menjalankan tugas dengan penuh dedikasi.
·         Mendisiplinkan diri sebelum mendisiplinkan pelajar lain.
·         Memastikan diri sendiri mencapai prestasi yang cemerlang dalam bidang akademik, kokurikulum, sahsiah dan disiplin.
·         Sentiasa peka terhadap apa yang berlaku dan memberikan cadangan dan pendapat kepada Lembaga Pengawas untuk memperbaiki keadaan.
·         Mengenalpasti pelajar-pelajar yang bermasalah disiplin dan cuba sedaya upaya untuk mengubah sikap mereka.
·         Mempengaruhi para pelajar untuk berdisiplin dan memberikan teguran kepada mereka yang bersalah.
·         Menyimpan rekod atau maklumat pelajar yang bersalah sebagai panduan masa hadapan.
·         Patuh kepada ketepatan masa. Para pengawas harus sampai ke tempat tugas lebih awal daripada masa yang ditetapkan.
·         Memastikan para pelajar beratur semasa membeli makanan di kantin, pergi ke makmal sains atau bengkel dan di luar kelas sebelum nyanyian lagu  Negaraku pada setiap pagi dan selepas waktu rehat.
2.2.7        Laboran
Laboran adalah petugas non guru yang membantu guru untuk  melaksanakan kegiatan praktikum/peragaan (meliputi penyiapan bahan, membantu pelaksanaan praktikum serta mengemasi/ membersihkan bahan dan alat setelah praktikum). Selain itu, Laboran adalah teknisi yang membantu guru dalam melaksanakan KBM yang berupa peragaan atau praktikum.
Secara prinsip, tugas  laboran adalah :
1.      Melaksanakan kegiatan praktikum siswa
2.      Menyediakan fasilitas laboratorium untuk kegiatan penelitian atau karya ilmiah
3.      Mengembangkan dan menyempurnakan sarana dan prasarana sistem yang menunjang kegiatan laboratorium.
4.      Kegiatan praktikum dilaksanakan setiap hari kerja sesuai dengan waktu yang telah ditentukan
5.      Praktikan wajib hadir tepat pada waktunya, toleransi keterlambatan 15 menit.
6.      Selama praktikum, praktikan tidak diperkenankan melakukan kegiatan selain praktikum, misalnya mengerjakan tugas pribadi, main game dll.
7.      Peserta praktikum (praktikan) adalah siswa yang masih aktif
8.    Calon praktikan harus mendaftarkan terlebih dahulu untuk mendapat kartu peserta praktikum.    
Pengelola Laboratorium dalam kegiatanya sebagai berikut :
1.    Merencanakan pengadaan alat dan bahan laboratorium
2.    Menyusun jadwal dan tata tertib penggunaan laboratorium
3.     Menyusun program dan tugas-tugas
4.     Mengatur menyimpan dan daftar alat-alat laboratorium
5.     Memelihara dan perbaikan alat-alat laboratorium
6.     Menginventarisasi dan mengadministrasikan alat-alat laboratorium
7.     Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan laboratorium dan diketahui oleh Waka Kurikulum
8.     Mengontrol pemakaian laboratorium secara rutin
9.     Mengontrol kondisi-keadaan perangkat dan sarana laboratorium secara rutin
10.    Memberikan laporan administrasi pemakaian laboratorium ke Waka Kurukulum, Waka Sarana dan Kepala Sekolah
11.    Mendata dan menyusun daftar inventarisasi alat dan bahan laboratorium
12.    Menginventarisasi dan menyusun jadwal penggunaan laboratorium guru bidang studi
13.    Mempersiapkan alat dan atau bahan pratikum yang diperlukan dalam pembelajaran
2.2.8        Bimbingan Konseling (BK)
Fungsi bimbingan dan konseling secara umum adalah sebagai fasilitator dan motivator client dalm upaya mengatasi dan mencegah problema kehidupan client dengan kemampuan yang ada pada diri sendiri.Sesuai dengan uraian sebelumnya bahwa bimbingan dan konseling bertujuan agar peserta didik dapat menemukan dirinya, mengenal dirinya dan mampu merencanakan masa depannya.
Dalam hubungan ini bimbingan dan konseling berfungsi sebagai pemberi layanan kepada preseta didik agar masing-masing peserta didik dapat berkembang secara optimal sehingga menjadi pribadi yang utuh dan mandiri oleh karna itu pelayanan bimbingan dan konseling mengembangkan sejumlah fungsi yang hendak dipenuhi melalui kegiatan bimbingan dan konseling.
Fungsi-fungsi tersebut adalah
1.      Fungsi pemahaman
Yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang suatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan dan perkembangan peserta didik. Fungsi pemahaman ini meliputi:
·         Pemahaman tentang diri peserta didik sendiri terutama oleh peserta didik sendiri, orang tua, guru pada umumnya dan guru pembimbing.
·         Pemahaman tentang lingkungan peserta didik termasuk dalam lingkungan keluarga dan sekolah terutama oleh peserta didik sendiri, orang tua, guru pada umumnya dan guru pembimbing.
·         Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas (termasuk didalamnya informasi pendidikan, informasi jabatan, perkerjaan dan informasi social dan budaya atau nilai-nilai) terutama oleh peserta didik.
2.      Fungsi pencegahan
Pencegahan didefinisikan sebagai upaya mempengaruhi dengan cara yang positif dan bijaksana lingkungan yang dapat menimbulkan kesulitan atau kerugian sebelum kesulitan atau kerugian itu benar-benar terjadi.fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pencegahannya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul yang akan dapat menggangu, menghambat ataupun menimbulkan kesulitan kurugian-kerugian tertentu dalam proses perkembangannya.
       Secara operasional konselor perlu menampilkan kegiatan dalam rangka pelaksanaan fungsi pencagahan
     Identifikasi pemesalahan yang mungkin timbul
     Mengindentifikasi dan menganalisis sumber-sumber penyebab tinbulnya masalah-masalah
     Mengidentifikasi pihak-pihak yang dapat membantu pencegahan masalah tersebut
     Menyusun rencana program pencegahan
     Pelaksanaan dan monitoring
     Evaluasi dan laporan
3.      Fungsi pengentasan
Dalam pelayanan bimbingan dan konseling pemberian label atau berasumsi bahwa peserta didik atau klien adalah orang sakit atau rusak sama sekali tidak boleh dilakukan. Melalui fungsi pengentasan ini pelayan bimbingan dan konseling dapat mengatasi berbagai masalah yang dialami oleh peserta didik.
4.      Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan
Adalah fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terpeliharanya dan terkembangnya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara terarah mantap dan berkelanjutan.
5.      Fungsi Advokasi
Fungsi advokasi yanitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan teradvokasi atau pembelaan terhadap peserta didik dalam rangka upaya pengembangan seluruh potensi secara optimal.
Fungsi-fungsi tersebut diwujudkan melalui diselenggarakannya berbagai jenis ayanan dan kegiatan bimbingan dan di dalam masing-masing fungsi tersebut. Setiap layanan dan kegiatan bimbingan konseling yang dilaksanakan harus secara langsung mengacu kepada satu atau lebih fungsi-fungsi tersebut agar hasil-hasil yang hendak dicapainya jelas dapat diidentifikasi dan dievaluasi.
Prayitno dkk (2004) memerinci peran, tugas dan tanggung jawab guru kelas dan guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling sebagai berikut:
1.     Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa
2.      Membantu guru pembimbing/konselor mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling, serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut.
3.     Mengalih tangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing/konselor.
4.      Menerima siswa alih tangan dari guru pembimbing/konselor, yaitu siswa yang menuntut guru pembimbing/konselor memerlukan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan, program pengayaan).
5.     Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling.
6.     Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan.
7.     Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa, seperti konferensi kasus.
8.     Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya.
Sehubungan dengan hal tersebut Sardiman (2001:142) mengemukakan sembilan peran guru yang terkait dengan penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah, yaitu:
1.       Sebagai Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum.
2.       Sebagai Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran dan lain-lain.
3.       Sebagai Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar dan pembelajaran.
4.       Sebagai Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.
5.       Sebagai Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-mengajar.
6.        Sebagai Transmitor, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam pendidikan dan pengetahuan.
7.       Sebagai Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar.
8.       Sebagai Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.
9.       Sebagai Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak.
2.2.9        Tata Usaha
Ditinjau dari sudut asal usul kata (etimologis), maka ADMINISTRASI berasal dari Bahasa Latin yaitu Ad+Ministrare. Ad berarti intensif, sedangkan Ministrare berarti melayani, membantu, dan memenuhi atau menyediakan (Husaini Usman, 2006).Menurut The Lian Gie (2000), tenaga tata usaha memiliki tiga peranan pokok yaitu: (1) melayani pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan operatif untuk mencapai tujuan dari suatu organisasi, (2) menyediakan keterangan-keterangan bagi pucuk pimpinan organisasi itu untuk membuat keputusan atau melakukan tindakan yang tepat, dan (3) membantu kelancaran perkembangan organisasi sebagai suatu keseluruhan.
Tugas dan tanggungjawab tata usaha:
1)      Mengkoordinir pengelolaan keuangan sekolah;
2)      Mengurus kebutuhan fasilitas tata usaha sekolah;
3)      Mengatur pengurusan kepegawaian;
4)      Membina dan mengembangkan karier tenaga tata usaha sekolah;
5)      Mengurus kebutuhan fasilitas tata usaha;
6)      Menyiapkan dan manyajikan data statistik sekolah;
7)      Mengatur pelaksanaan kesekretariatan dan kerumahtanggaan;
8)      Mengatur administrasi hasil proses kegiatan belajar mengajar;
9)      Membantu kepala sekolah untuk mengembangkan sistem informasi sekolah;
10)   Mengatur administrasi kesiswaan dan beasiswa;
11)   Membantu pelaksanaan program K7; dan
12)   Membantu kepala sekolah dalam penyusunan RAPBS dan RIPS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved.ARSBLOG.ID | Newsphere by AF themes.