Pengembangan Manajemen Kelas – ARSBLOG.ID
Sat. Apr 17th, 2021

ARSBLOG.ID

BERBAGI DAN MENGINSPIRASI

Pengembangan Manajemen Kelas

13 min read


PENGERTIAN MANAJEMEN KELAS

 

Maju tidaknya dunia pendidikan tentu tidak bisa dilepaskan dari peran para guru. Namun, peran guru disini bukan sekedar aktifitas mengajarkan materi pelajaran kepada siswa. Antara kemampuan mengajar dan kemampuan memanajemen kelas yang baik, keduanya merupakan dua factor yang tidak terpisahkan. Keberhasilan seorang siswa dalam menangkap dan memahami mata pelajaran yang mereka pelajari sungguh sangat ditentukan oleh suasana kelas yang kondusif, dimana hal ini membutuhkan kecakapan para guru dalam mengelola dan menatanya. Oleh sebab itu , sangat penting bagi para guru untuk memahami strategi manajemen kelas dengan baik.
Jadi, pengertian manajemen kelas adalah segala usaha yang dilakukan untuk mewujudkan terciptanya suasana belajar-mengajar yang efektif dan menyenangkan, serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai kemampuan mereka.

TUJUAN MANAJEMEN KELAS

 

Secara umum, manajemen kelas bertujuan untuk penyedian fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan social, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya suasana social yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa. (Sudirman N,1991,311)

 

PENGELOLAAN KELAS
 
Bila kelas diberikan batasan sebagai sekelompok orang yang belajar bersama, yang mendapatkan pengajaran dari guru, maka didalamnya terdapat orang-orang yang melakukan kegiatan belajar dengan karakteristik mereka masing-masing yang berbeda dari yang satu dengan yang lainnya.
Perbedaan ini perlu guru pahami agar mudah dalam melakukan pengelolaan kelas secara efektif. Menurut Made Pidarta untuk mengelola kelas secara efektif perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.      Kelas adalah sekelompok kerja yang diorganisasi untuk tujuan tertentu, yang dilengkapi oleh tugas-tugas dan diarahkan oleh guru.
2.      Dalam situasi kelas, guru bukan tutor untuk satu anak pada waktu tertentu, tetapi bagi semua anak atau kelompok.
3.      Kelompok mempunyai perilaku sendiri yang berbeda dengan perilaku-perilaku masing-masing individu dalam kelompok itu. Kelompok mempengaruhi individu-individu dalam hal bagaimana mereka memandang dirinya masing-masing dan bagaimana belajar.
4.      Kelompok kelas menyisipkan pengaruhnya kepada anggota-anggota. Pengaruh yang jelek dapat dibatasi oleh usaha gurudalam membimbing mereka di kelas di kala belajar.
5.      Praktek guru waktu belajar cenderung terpusat pada hubungan guru dan siswa. Makin meningkat keterampilan guru mengelola secara kelompok, makin puas anggota-anggota didalam kelas.
6.      Struktur kelompok, pola komunikasi, dan kesatuan kelompok ditentukan oleh cara guru mengelola, baik untuk mereka yang tertarik pada sekolah maupun bagi mereka yang apatis, masa bodoh atau bermusuhan.
Ditambahkannya lagi, bahwa organisasi kelas tidak hanya berfungsi sebagai dasar terciptanya interaksi guru dan siswa, tetapi juga menambah terciptanya efektivitas, yaitu interaksi yang bersifat kelompok. Dari hasil riset telah disimpulkan beberapa variable masalah yang perlu diperhatikan untuk membuat iklim kelas yang sehat dan efektif, sebagai berikut:
a.   Bila situasi  kelas memungkinkan anak-anak belajar secara maksimal, fungsi kelompok harus diminimalkan.
b.   Manajemen kelas harus memberi fasilitas untuk mengembangkan kesatuan dan kerjasama.
c.    Anggota-anggota kelompok harus diberi kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang memberi efek kepada hubungan dan kondisi belajar/kerja.
d.   Anggota-anggota kelompok harus dibimbing dalam menyelesaikan kebimbingan, ketegangan dan perasaan tertekan.
e.   Perlu diciptakan persahabatan dan kepercayaan yang kuat antar siswa.
Keharmonisan hubungan guru dengan siswa mempunyai efek terhadap pengelolaan kelas. Guru yang apatis terhadap siswa membuat siswa menjauhinya. Siswa lebih banyak menolak kehadiran guru. Rasa benci yang tertanam di dalam diri siswa menyebabkan bahan pelajaran sukar diterima dengan baik. Kecenderungan sikap siswa yang negative lebih dominan. Sifat kemunafikan ini menciptakan jurang pemisah antara guru dengan siswa.
Lain halnya dengan guru yang selalu memperhatikan siswa, selalu terbuka, selalu tanggap  terhadap keluhan siswa, selalu bersedia mendengarkan saran dan kritikan dari siswa, dan sebagainya, adalah guru yang disenangi oleh siswa. Siswa rindu akan kehadirannya, siswa senang mendengarkan nasihatnya, siswa merasa aman disisinya, siswa senang belajar bersamanya, dan siswa merasakan bahwa dirinya adalah bagian dari diri guru tersebut. Itulah figure seorang guru yang baik. Figure guru yang demikian biasanya akan kurang menemui kesulitan dalam mengelola kelas.
Thomas Gordon (1990;29) mengatakan bahwa hubungan guru dan siswa dikatakan baik apabila hubungan itu memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1.   Keterbukaan, sehingga baik guru maupun siswa saling bersikap jujur dan membuka diri satu sama lain.
2.   Tanggap bilamana seseorang tahu bahwa dia dinilai oleh orang lain.
3.   Saling ketergantungan, antara satu dengan yang lain.
4.   Kebebasan, yang memperbolehkan setiap orang tumbuh dan mengembangkan keunikannya, kreativitasnya dan kepribadiannya.
5.   Saling memenuhi kebutuhan, sehingga tidak ada kebutuhan satu orang pun yang tidak terpenuhi.
Bila begitu konsepsi pengelolaan kelas yang efektif, maka itu berarti tugas yang berat bagi guru adalah berusaha menghilangkan atau memperkecil permasalahan-permasalahan yang terkait dengan semua problem pengelolaan kelas, seperti kurangnya kesatuan, tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok, reasksi negatif terhadap anggota kelompok, moral rendah, kelas mentoleransi kekeliruan-kekeliruan temannya,dan sebagainya.

USAHA PREVENTIF MASALAH PENGELOLAAN KELAS
 

Menurut Piet Sahertian & Ida Sahertian (1992: 106) Pengelolaan kelas sangat erat hubungannya dengan keberhasilan dalam situasi belajar mengajar. Untuk guru diharapkan terampil untuk menciptakan dan memaklumi kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya kondisi yang optimal dengan cara mendisiplinkan dan melakukan kegiatan remedial.
Dengan demikian, tindakan pengelolaan kelas adalah tindakan yang dilakukan oleh guru dalam rangka penyediaan kondisi yang optimal agar proses pembelajaran berlangsung aktif. Tindakan guru tersebut berupa tindakan pencegahan yaitu dengan jalan menyediakan kondisi baik fisik maupun kondisi sosio-emosional sehingga terasa benar oleh peserta didik rasa kenyamanan dan keamanan untuk belajar. Tindakan yang menyimpang dan merusak kondisi optimalbagi proses pembelajaran yang sedang berlangsung.
Dimensi Korektif dapat terbagi dua yaitu tindakan yang seharusnya segera diambil guru pada saat terjadi gangguan (dimensi tindakan)  dan tindakan penyembuhan terhadap tingkah-laku yang menyimpang yang terlanjur terjadi agar penyimpangan tersebut tidak berlarut-larut.
Dimensi pencegahan dapat berupa tindakan guru dalam mengatur lingkungan belajar, mengatur peralatan, dan lingkungan sosio-emosional
Kondisi dan Situasi Pembelajaran
a. Kondisi fisik :
v Penataan Ruang Kelas
Agar terciptanya suasana belajar yang menggairahkan, perlu diperhatikan pengaturan atau penataan ruang kelas atau belajar. Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu siswa dalam belajar. Dalam pengaturan ruang belajar, hal-hal berikut perlu diperhatikan:
·         Ukuran dan bentuk kelas
·         Bentuk serta ukuran bangku dan meja siswa
·         Jumlah siswa dalam kelas
·         Jumlah siswa dalam setiap kelompok.
·         Jumlah kelompok dalam kelas.
·         Komposisi siswa dalam kelompok ( seperti siswa pandai dengan siswa kurang pandai, pria dengan wanita)
(Conny Semiawan, dkk, 1985;64)
v Pengaturan tempat duduk
Dalam belajar  siswa memerlukan tempat duduk. Bila tempat duduknya bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa, maka siswa akan dapat belajar dengan tenang.Bentuk dan ukuran tempat yang digunakan sekarang bermacam-macam, ada yang satu tempat duduk dapat diduduki oleh beberapa orang, ada pula yang hanya dapat diduduki oleh seorang siswa. Sebaiknya tempat duduk siswa itu ukurannya jangan terlalu besar agar mudah diubah-ubah formasinya. Ada beberapa bentuk formasi tempat duduk yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan. Apabila pengajaran itu akan ditempuh dengan cara berdiskusi, maka formasi tempat duduknya sebaiknya berbentuk melingkar. Jika pengajaran ditempuh dengan metode ceramah, maka tempat duduknya sebaiknya berderet memanjang ke belakang.
Sudirman N (1991;318) mengemukakan beberapa contoh formasi tempat duduk, yaitu posisi berhadapan, posisi setengah lingkaran, dan posisi berbaris ke belakang.

v Pengaturan Alat-alat Pengajaran
Diantara alat-alat pengajaran di kelas yang harus diatur adalah sebagai berikut:
a.      Perpustakaan Kelas
b.      Alat – alat peraga media pengajaran
c.       Papan tulis, kapurtulis, dan lain-lain.
d.      Papan presensi siswa
v Penataan Keindahan dan Kebersihan Kelas
Hiasan dinding (pajangan kelas) hendaknya dimanfaatkan untuk kepentingan pengajaran, misalnya:
·         Burung Garuda
·         Teks Proklamasi
·         Slogan pendidikan
·         Para pahlawan
·         Peta/globe
Penempatan lemari
·         Untuk buku di depan
·         Alat-alat peraga di belakang
Pemeliharaan kebersihan
·         Siswa bergiliran untuk membersihkan kelas
·         Guru memerikas kebersihan dan ketertiban kelas

v Ventilasi dan Tata Cahaya
·         Ada ventilasi yang sesuai dengan ruangan kelas
·         Pengaturan cahaya yang masuk harus cukup.
Untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya bagi siswa dalam belajar, hal-hal berikut kiranyadapat dijadikan pegangan, yaitu:
1.      Mengatur tempat duduk siswa harus mencerminkan belajar efektif. Bangku disediakan yang memungkinkan dipindah atau diubah tempatnya.
2.      Ruangan kelas yang bersih dan segar akan menjadikan siswa bergairah belajar.
3.      Memelihara kebersihan dan kenyamanan suatu kelas/ruang belajar, sama artinya dengan mempermudah siswa menerima pelajaran.
b. Kondisi sosial-emosional:
Suasana sosio-emosional dalam kelas akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses pembelajaran, kegairahan peserta didik merupakan efektivitas tercapainya tujuan pengajaran.
v Tipe Kepemimpinan
Peranan guru, tipe kepemimpinan guru atau administrasi akan mewarnai suasana emosional di dalam kelas. Tipe kepemimpinan yang lebih berat pada otoriter akan menghasilkan sikap peserta didik yang submissive atau apatis. Tapi di pihak lain juga akan menumbuhkan sikap yang agressif.
        Kedua sikap peserta didik yaitu apatis dan agressif ini dapat merupakan sumber problem pengelolaan, baik yang sifatnya individual maupun kelompok kelas sebagai keseluruhan. Dengan tipe kepemimpinan yang otoriter peserta didik hanya akan aktif kalau ada guru dan kalau guru tidak mengawasi maka semua aktivitas menjadi menurun. Aktivitas proses pembelajaran sangat tergantung pada guru dan menuntut sangat banyak perhatian dari guru.
        Tipe kepemimpinan yang cenderung pada laissez-faire biasanya tidak produktif walaupun ada pemimpin. Kalau guru ada peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan yang sifatnya ingin diperhatikan. Dalam kepemimpinan tipe ini malahan biasanya aktivitas pesrta didik lebih produktif kalau guru yang innerdirected di mana pesrta didik tersebut aktif, penuh kemauan, berinisiatif, dan tidak selalu menunggu pengarahan. Akan tetapi kelompok pesrta didik semacam ini biasanya tidak cukup banyak.
        Tipe kepemimpinan guru yang lebih menekankan kepada sikap demokratis lebih memungkinkan terbinanya sikap persahabatan guru dan peserta didik dengan dasar saling memahami dan saling mempercayai. Sikap ini dapat membantu menciptakan iklim yang menguntungkan bagi terciptanya kondisi proses pembelajaran yang optimal, peserta didik akan belajar secara produktif baik pada saat diawasi guru maupun tanpa diawasi guru, dalam kondisi semacam ini biasanya problema pengelolaan biasa sedikit mungkin.
v Sikap guru
Sikap guru dalam menghadapi peserta didik yang melanggar peraturan sekolah hendaknya tetap sabar, dan tetap bersahabatan dengan suatu keyakinan bahwa tingkah-laku peserta didik akan dapat diperbaiki. Kalau guru terpaksa membenci, bencilah tingkah-laku buruk peserta didik dan bukan membenci peserta didik.
Terimalah peserta didik dengan hangat kalau ia insyaf akan kesalahannya. Berlaku adil dalam bertindak dan ciptakan satu yang menyebabkan perseta didik sadar akan kesalahannya dan ada dorongan untuk memperbaikinya.
v Suara guru
Suatu guru walaupun bukan faktor besar tetapi turut mempunyai pengaruh dalam belajar. Suara yang melengking tinggi atau senantisa tinggi atau demikian rendah sehingga tidak terdengar oleh peserta didik secara jelas dan jarak yang agak jauh akan membosankan dan pelajaran tidak akan diperhatikan. Suasana semacam ini mengundang tingkah laku yang tidak diinginkan.
Suara yang relatif rendah tetapi cukup jelas dengan volume suara yang penuh kedengarannya rileks akan mendorong peserta didik untuk lebih berani mengajukan pertanyaan, mencoba sendiri, melakukan percobaan terarah, dan sebagainya. Tekanan suara hendaknya bervariasi sehingga tidak membosankan peserta didik yang mendengarnya.
c. Kondisi organizational:
Kegiatan rutin yang secara organizational dilakukan baik di tingkat kelas maupun di tingkat sekolah akan dapat mencegah masalah pengelolaan kelas. Dengan kegiatan rutin yang telah diatur secara jelas dan telah dikomunikasikan kepada semua peserta didik secara terbuka sehingga jelas pula bagi mereka, akan menyebabkan tertanamnya pada diri setiap peserta didik kebiasaan yang baik dan keteraturan tingkah-laku kegiatan tersebut antara lain sebangai berikut:
                                            
v Pergantian pelajaran atau kuliah
Untuk beberapa pelajaran mungkin ada baiknya peserta didik tetap berada dalam satu ruangan dan guru yang datang. Akan tetapi untuk pelajaran-pelajaran tertentu, seperti bekerja di Laboratorium, olahraga, kesenian, menggambar, dan sebagainya, peserta didik diharuskan pindah ruangan.
Hal rutin semacam ini hendaknya diatur secara tertib. Misalnya, ada tenggang waktu bagi peserta didik berpindah ruangan. Perpindahan peserta didik dari satu ruangan ke ruangan lain dipimpin oleh ketua, ruangan-ruangan diberikan tanda dengan jelas, peserta didik berkewajiban untuk membereskan ruangan dan alat oerlengkapan yang telah dipakai setelah pelajaran selesai dipimpin olek piket dan dibawah pengawasan guru.
v Guru yang berhalangan hadir
Jika suatu saat seorang guru berhalangan hadir karena satu atau hal lain, maka peserta didik disuruh tetap berada didalam kelas dengan tenang untuk menunggu guru yang bersangkutan selama 10 menit. Bila setelah waktu 10 menit guru yang mendapat giliran juga belum datang, ketua kelas diwajibkan lapor kepada guru piket dan guru piket dan guru piket yang akan menghambat inisiatif untuk mengatasi kekosongan guru tersebut.
v Masalah antar peserta didik
Jika terjadi masalah antar peserta didik yang tidak dapat diselesaikan antar mereka, ketua dapat melapor kepada wali kelas untuk bersama-sama memecahkan dan mengatasi masalah tersebut. Jika pemecahannya belum tuntas diselesaikan, ketua bersama wali kelas atau OSIS dapat menghadap pimpinan intitusi untuk mendapatkan petunjuk kebijakan dalam mengatasi masalah tersebut.
Dengan demikian kalau ada usul kegiatan dari peserta didik, rencana kegiatan kelas (kemping,pesta,kunjungan  ke sekolah land an sebagainya) , prosedur dapat ditempuh.
v Upacara bendera
Dalam upacara bendera harus sudah ditetapkan giliran yang memimpin upacara, baik dari pihak guru maupun dari pihak peserta didik. Sehingga semua sivitas tahu persis jam berapa mereka harus mulai sekolah, siapa yang harus memberikan nasehat, pengarahan, dan sebagainya.
v Kegiatan lainnya
Demikian pula kegiatan lainnya yang merupakan kegiatan rutin seperti prosedur penyampaian informasi dari sekolah kepada guru, dan peserta didik menyampaikannya peraturan sekolah yang baru, pesta sekolah, hari libur, kematian anggota sivitas, ikut menanggulangi bencana alam, dan lain-lain dan harus dapat diatur secara jelas, tidak kaku dan harus cukup fleksibel.
                    KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS
Keberhasilan mengajar seorang guru tidak hanya berkaitan langsung dengan proses belajar mengajar, misalnya tujuan yang jelas, menguasai materi, pemilihan metode yang tepat, penggunaan sarana, dan evaluasi yang tepat. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah keberhasilan guru dalam mencegah timbulnya perilaku subyek didik yang mengganggu jalannya proses belajar mengajar, kondisi fisik belajar dan kemampuan mengelolanya. Oleh sebab itu kegiatan guru dapat dibagi menjadi dua, yaitu kegiatan Pengelolaan pengajaran dan kegiatan pengelolaan kelas .Tujuan pengajaran yang tidak jelas, materi yang terlalu mudah atau terlalu sulit, urutan materi tidak sistematis, alat pembelajaran tidak tersedia, merupakan contoh masalah pembelajaran. Sedangkan subyek didik mengantuk, enggan mengerjakan tugas, terlambat masuk kelas , mengganggu teman lain, mengajukan pertanyaan aneh, tempat duduk banyak kutu busuk, ruang kelas kotor, merupakan contoh masalah pengelolaan kelas. Dan untuk penanggulangannya seorang guru harus dapat memberikan bimbingan sebab ini secara psikologis akan menarik keterlibatan peserta didik. Guru bisa memulainya dengan apa yang peserta didik sukai, bagaimana cara berpikir mereka dan bagaimana mereka menyikapi hal”hal yang terjadi dalam kehidupan mereka. Untuk menunjang kegiatan belajar mengajar yang mengaktifkan peserta didik perlu diperhatikan hal”hal sebagai berikut :
1. Aksesbilitas : peserta didik mudah menjangkau alat dan sumber belajar.
2. Mobilitas : peserta didik dan guru mudah bergerak dari satu bagian ke bagian yang lain.
3. Interaksi : memudahkan terjadi interaksi antara diri peserta didik maupun antar peserta didik.
4. Variasi kerja peserta didik : memungkinkan peserta didik bekerja secara perorangan, berpasangan atau berkelompok. Pada intinya, kemampuan guru memilih strategi pengelolaan kelas yang tepat sangat tergantung pada kemampuannya menganalisis masalah Kelas yang dihadapinya jika ia tepat meletakkan strategi tersebut maka proses belajar mengajar akan efektif.
2.5 ADMINISTRASI TEKNIK
Administrasi teknik akan turut mempengaruhi pengelolaan proses belajar mengajar. Administrasi teknik ini meliputi hal-hal berikut :
1.      Absensi
Absensi peserta didik dan guru hendaknya dikelola sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar yang sedang berlangsung. Hendaknya diadakan pengecekan secara periodic terhadap absensi ini.
2.      Ruang Bimbingan
Hendaknya tersedia ruangan khusus yang dapat dipergunakan untuk keperluan bimbingan peserta didik yang dilakukan oleh guru, wali kelas, atau guru pembimbing di sekolah.
3.      Tempat Baca
Hendaknya tersedia tempat baca untuk peserta didik yang dapat dimanfaatkan waktu istirahat atau pada waktu luang.Tempat bermain dan alat bermain yang mengandung nilai edukatif akan sangat membantu mengatasi masalah pengelolaan.
4.      Tempat Sampah
Tempat sampah hendaknya tersedia pada tempat khusus sehingga peserta didik terdorong untuk membiasakan diri hidup teratur.
5.      Catatan Pribadi
Catatan Pribadi peserta didik mempunyai peranan penting dalam hubungannya dengan pengelolaan, baik dalam rangka pencegahan maupun dalam rangka mengatasi tingkah laku yang sudah terlanjut. Dengan catatan pribadi guru akan mengenal peserta didik secara lebih lengkap termasuk latar belakang kehidupannya. Catatan pribadi dapat berfungsi:
·         Secara umum sebagai alat cecking terhadap efektivitas program sekolah baik bagi peserta didik secara individual maupun bagi peserta didik keseluruhan ,
·         Sebagai suatu sarana untuk memahami peserta didik dengan latar belakang kehidupannya secara lebih baik,
·         Sebagai alat bantu bagi orang tua untuk mengenal putra-putrinya secara lebih baik,
·         Sebagai alat bantu bagi peserta didik itu sendiri dalam memahami dirinya sendiri.

Isi catatan pribadi peserta didik meliputi kehadiran, catatan akademis seperti hasil tes bakat,kecepatan membaca, kesehatan fisik, sikap social, catatan anecdotal, dan sebagainya.
Bentuk catatan pribadi peserta didik guru bisa mempergunakan sumber dengan observasi langsung dari mereka, bertanya kepada orang tua, teman-temannya dan sebagainya. Juga hendaknya tersedia petunjuk-petunjuk tentang penggunaan perpusatakaan, WC sekolah, dan alat-alat pengaman yang tersedia.
Kemudian untuk menjadikan agar kelas pengajaran itu tetap tertib,terjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan maka diperlukan tata tertib kelas yang tertulis. Dibawah ini penulis berikan contoh sebuah contoh mengenai tata tertib kelas.
CONTOH :
TATA TERTIB KELAS
1. Sebelum Pelajaran Dimulai
·         Setelah lonceng berbunyi tanda pelajaran dimulai, peserta didik berbaris di depan kelasnya, kemudian guru mempersilahkan mereka masuk kelas secara tertib
·         Pelajaran pertama didahului  dengan doa pembukaan menurut agama atau kepercayaan masing-masing.
·         Peserta didik yang dating terlambat harus melaporkan diri terlebih dahulu kepada pimpinan sekolah sebelum mengikuti pelajaran.
·         Guru hendaklah mengadakan pencatatan terhadap peserta didik yang hadir (presen), tak hadir (absen), dan yang dating terlambat pada :
a. Papan Presentasi Kelas
b. Daftar Presentasi Kelas
2.      Selama Pelajaran Berlangsung
·         Sebelum pelajaran dimulai diadakan doa
·         Peserta didik harus mengikuti pelajaran dengan saksama
·         Peserta didik mengemukakan pendapat atau bertanya tentang pelajaran yang diterangkan,bila tidak mengerti
·         Peserta didik tidak diperbolehkan mengerjakan pekerjaan lain,selain pelajaran yang bersangkutan
·         Peserta tidak boleh meninggalkan kelas tanpa seizing guru
·         Bila ada suatu kepentingan, peserta didik diperbolehkan meninggalkan pelajaran (pulang) dengan seizing guru yang bersangkutan dan sepengetahuan pimpinan sekolah
·         Peserta didik dilarang makan-makan atau merokok selama pelajaran berlanngsung
·         Peserta didik wajib ikut serta memelihara kebersihan dan ketertiban kelas
·         Peserta didik harus bersikap sopan/hormat terhadap guru
3.      Selama Waktu Istirahat
·         Pada waktu istirahat, peserts didik tidak diperbolehkan tinggal di dalam kelas
·         Pada waktu istirahat peserta didik hendaklah memanfaatkan untuk beristirahat
·         Peserta didik tidak boleh meninggalkan lingkungan sekolah waktu istirahat, tanpa seizin Pimpinan Sekolah
4.      Sesudah Pelajaran Berakhir
·         Sesudah pelajaran berakhir, hendaklah segera diadakan pergantian pelajaran berikutnya
·         Peserta didikhendaklah memberikan hormat kepada guru yang akan meninggalkan kelas
·         Sebelum guru meninggalkan kelas, perlu ditanda-tangan daftar presensi kelas
·         Sesudah pelajaran berakhir diadakan do’a penutup dan kemudian baru diperbolehkan pulang
·         Sebelum pulang peserta didik harus meneliti tempatnya,agar tidak ada barang yang ketinggalan
5.      Selama Pelajaran Berlangsung
·         Dalam mengikuti pelajaran peserta didik harus berpakaian sopan,bersih,dan rapih
·         Dalam mengikuti pelajaran peserta didik harus “lengkap” dengan alat-alat pelajaran yang dibutuhkan
·         Dalam mengikuti pelajaran :
a. Peserta didik laki-laki wajib memperhatikan kerapihan rambut, kumis, dan   sebagainya
b. Peserta didik perempuan wajib memperhatikan agar dandanannya sederhana
·         Peserta didik yang berhalangan mengikuti pelajaran (karena sakit,dan sebagainya) supaya menyampaikan surat :keterangan berhalanngan” kepada pimpinan sekolah melalui guru/wali kelasyang bersangkutan
·         Permohonan izin (karena ada sesuatu kepentingan); supaya disampaikan sebelumnya, bukan sesudahnya
·         Peraturan-peraturan lainnya, lihat: ada Tata Tertib Sekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved.ARSBLOG.ID | Newsphere by AF themes.