TIGA HAL POKOK DALAM BERPIKIR POSITIF – ARSBLOG.ID
Sun. Sep 19th, 2021

ARSBLOG.ID

BERBAGI DAN MENGINSPIRASI

TIGA HAL POKOK DALAM BERPIKIR POSITIF

3 min read
TIGA HAL POKOK DALAM BERPIKIR POSITIF
Jika berbicara nikmat Tuhan, nikmat Tuhan sangatlah banyak. Nikmat Tuhan banyak diberikan kepada seluruh makhluk hidup baik manusia, binatang, maupun tumbuhan. Tetapi, ada nikmat Tuhan yang hanya diberikan kepada manusia, yaitu berpikir.
Terdapat beberapa aspek yang mengatakan kesamaan antara manusia dan binatang. Tetapi kesamaan-kesamaan itu dihapus oleh adanya kapasitas yang paling mendasar dalam diri manusia, yaitu berpikir. Jadi, esensi kemanusiaan seseorang bukan pada wujud secara fisiknya melainkan pada pikirannya dalam arti yang luas.
Terdapat kata-kata bijak “Nasibmu tidak ditentukan oleh di mana kamu berada, tetap oleh apa yang mengisi pikiranmu.” Intinya isi pemikiranlah yang menentukan nasib seseorang. Tempat dan lain-lain, memang mempunyai pengaruh, namun bukan yang menentukan. Menurut studi di Amerika, sebagian besar perusahaan raksasa di dunia saat ini dimulai dari rumah atau garasi. Misalnya saja Amway, Bata, dan lainnya.
Meski pikiran merupakan nikmat Tuhan yang hanya diberikan kepada manusia, namun nikmat di sini pengertiannya bukanlah hasil, melainkan dalam bentuk potensi. Potensi inilah yang digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dan manusia itu sendiri yang tahu bagaimana menggunakannya dan yang pasti mau menggunakannya. Pikiran ini haruslah diberi bimbingan. Jika pikiran diberikan bimbingan negatif maka jadilah hal  yang negatif, pembimbingan yang bagus ialah bimbingan dalam bentuk hal positif atau berpikir positif atau disebut pula berpikir positif. Apa itu berpikir positif? Terdapat tiga hal pokok dalam berpikir positif:
Pertama, muatan pikiran. Berpikir positif adalah upaya untuk mengisi ruang-ruang pikiran dengan muatan yang bersifat positif. Ruang pikiran ialah 3N: Nalar (pikiran, intelektual), Naluri (perasaan,emosional), dan Nurani (hati, spiritual). Sedangkan muatan positif di sini adalah berbagai bentuk pemikiran dengan kriteria baik,benar,dan berguna.
Biasanya orang yang sudah berpikiran positif akan mudah mendapatkan atau didatangi oleh hal-hal positif. Cara kerja pikiran positif itu sama seperti Hukum Gravitasi. Apa yang kita lempar ke atas itulah yang akan jatuh ke bawah.
Kedua, penggunaan pikiran. Berpikir positif tidak hanya memasukkan muatan positif ke dalam ruang pikiran saja. Sebenarnya ini sudah baik dan benar, namun tidak berguna, karena tidak digunakan. Katakanlah kita memiliki pemahaman keagamaan bahwa setiap musibah ada hikmahnya. Bila pemahaman itu kita gunakan untuk hal-hal positif atau menghindari hal-hal negatif (koreksi diri), tentulah berguna.
Sama halnya kita gagal, bila kita mempunyai keyakinan bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, tentu ini positif. Tapi berguna atau tidak, itu tergantung, tergantung kita menggunakannya atau tidak. Bila keyakinan itu digunakan seperti mencari jalan yang lebih baik, menciptakan usaha yang lebih baik, atau mengambil pelajaran yang spesifik untuk menghindari kegagalan serupa, tentu ini sangat berguna. Tapi jika keyakinan itu berhenti untuk diyakini saja maka  ini kurang berguna.
Karena itu, agama mengajarkan bahwa yang disebut beriman kepada takdir tidak sama dengan pasrah pada realita. Iman pada takdir artinya kita menerima realita lalu berupaya untuk memperbaikinya atas dasar keimanan. Sedangkan pasrah pada realita hanya menerima namun tidak melakukan tindakan positif apapun.
Ketiga, pengawasan pikiran (Monitoring and Controlling). Berpikir positif juga terkait dengan kemampuan kita untuk mengontrol pikiran kita. Mengontrol pikiran artinya kita menjalankan 3C dalam proses berpikir.
·      Catch (menangkap): berusaha mengetahui muatan positif dan negatif.
·      Change (mengubah): berusaha mengubah pikiran yang negatif menjadi pikiran yang positif.
·     Create (menciptakan): berusaha menciptakan pemikiran baru yang positif untuk menggantikan pikiran lama yang negatif.
Menjalankan formula 3C atau mengontrol pikiran ini penting karena tidak ada seorang pun di dunia ini yang muatan pikirannya selalu positif.
Untuk mengakhiri tulisan ini, terdapat sebuah paragraf yang mengatakan:
Ada yang mengatakan bahwa nasib yang terjadi hari ini adalah buah pemikiran di masa lalu. Harus dipahami bahwa yang dimaksud pemikiran itu bukanlah pemikiran yang hanya melintas atau sebata wacana, melainkan yang sudah menjadi budaya hidup yang sudah dijalankan berulang-ulang atau sudah menjadi sebuah kebiasaan.
Ayo berpikir positif!
sumber:
Ubaedy, A.N. 2007. Kedahsyatan Berpikir Positif. Depok: Visi03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved.ARSBLOG.ID | Newsphere by AF themes.