Asal Mula 1 hari 24 jam 1 jam 60 menit dan 1 menit 60 detik – ARSBLOG.ID
Sat. Apr 17th, 2021

ARSBLOG.ID

BERBAGI DAN MENGINSPIRASI

Asal Mula 1 hari 24 jam 1 jam 60 menit dan 1 menit 60 detik

4 min read


Mengapa 1 hari ada 24 jam? kenapa 1 jam ada 60 menit? kenapa 1 menit ada 60 detik? asal mula 1 hari 24 jam 1 jam 60 menit 1 menit 60 detik, asal mula jam, asal mula perhitungan waktu.
bulan, bintang
 
Seperti yang kita ketahui semua bahwa dalam 1 hari ada 24 jam, dalam 1 jam ada 60 menit, dan dalam 1 menit ada 60 detik. Namun apakah kita pernah berfikir dan bertanya-tanya kenapa hal ini bisa terjadi atau kenapa ga 1 jam 100 menit aja biar gampang ngitungnya?? Hhehhe… pasti banyak diantara kita tidak terlalu memikirkan hal tersebut dan cenderung acuh dengan hal tersebut. Namun kalau kalian penasaran bagaimana hal itu bisa terjadi maka Inilah jawabannya. ARS Blog akan mencoba untuk menyampaikan beberapa pendapat dari berbagai sumber mengenai bagaimana penghitungan mengenai hari, jam, menit, dan detik tersebut. Terlepas dari benar atau tidaknya pun kami kembalikan kepada pengunjung setia ARS Blog ^_^
Menurut beberapa sumber yang telah ARS Blog himpun, jadi begini nih ceritanya,
Sistem bilangan yang paling banyak digunakan manusia saat ini adalah sistem desimal, pasti kalian sudah tahu kan dengan bilangan decimal, bilangan decimal itu sebuah sistem bilangan berbasis 10. Namun untuk mengukur waktu yang kita gunakan saat ini yaitu menggunakan sistem duodesimal (basis 12) dan sexadesimal (basis 60). Penggunaan system ini disebabkan karena metode untuk membagi dan menghitung hari diturunkan dari sistem bilangan yang digunakan oleh peradaban kuno Mediterania. Jadi pada sekitar tahun 1500 SM, orang-orang Mesir kuno telah menggunakan sistem bilangan berbasis 12 yang telah disebutkan diatas, dan mereka juga aktif mengembangkan sebuah sistem jam matahari berbentuk seperti huruf T yang diletakkan di atas tanah dengan sudut tertentu dan kemudian mereka membagi waktu antara matahari terbit dan tenggelam ke dalam 12 bagian. Para ahli sejarah berpendapat, bahwa orang-orang Mesir kuno ini menggunakan sistem bilangan berbasis 12 tersebut didasarkan atas jumlah siklus bulan dalam setahun atau ada yang berpendapat pula karena didasarkan atas banyaknya jumlah sendi jari manusia ( dalam hal ini 3 di tiap jari, tidak termasuk jempol) yang memungkinkan mereka berhitung hingga hitungan ke-12 dengan menggunakan jempol.

Kemudian jam matahari generasi selanjutnyanya sudah mulai sedikit lebih banyak merepresentasikan tentang apa yang saat ini kita sebut dengan “jam”. Sedangkan pada metode pembagian malamnya menjadi 12 bagian, hal ini didasarkan atas pengamatan para ahli-ahli astronomi bangsa Mesir kuno mengenai adanya 12 bintang di langit pada saat malam hari.


Kemudian dengan membagi satu hari dan satu malam menjadi masing-masing 12 jam, maka secara tidak langsung konsep 24 jam telah diperkenalkan oleh mereka. Namun demikian, dalam hal panjang hari dan panjang malam tidaklah sama, hal ini berrgantung pada musimnya saat itu (contoh: saat musim panas hari lebih panjang dibandingkan malam). Nah dengan adanya hal itu pembagian jam dalam satu hari pun mulai berubah-ubah ya disesuaikan dengan musimnya saat itu. Sistem waktu ini kemudian dikenal dengan sistem waktu musiman. Kemudian pada sekitar tahun 147-127 SM, ada seorang ahli astronomi Yunani yang bernama Hipparchus yang kemudian menyarankan agar banyaknya jam dalam satu hari harus dibuat tetap saja agar tidak membingungkan yaitu sebanyak 24 jam, disebut dengan sistem waktu equinoctial. Namun sistem yang demikian ini ternyata baru bisa diterima secara luas saat ditemukannya jam mekanik di Eropa pada sekitar abad ke-14.
Kemudian Eratosthenes (276-194 SM), yang juga merupakan seorang ahli astronomi Yunani lainnya kemudian membagi sebuah lingkaran menjadi 60 bagian untuk membuat sistem geografis latitude. Teknik ini tidak lain didasarkan atas sistem bilangan berbasis 60 yang digunakan oleh kebanyakan orang-orang Babilonia yang berdiam di Mesopotamia, yang jika kita teliti lebih jauh ternyata system ini diturunkan dari sistem yang digunakan oleh peradaban Sumeria pada sekitar 2000 SM. Berbagai sumber menyatakan bahwa tidak diketahui secara pasti mengapa menggunakan sistem bilangan berbasis 60, namun para ahli sejarah menduga bahwa hal itu didasarkan untuk kemudahan perhitungan karena pada system ini angka 60 adalah merupakan angka terkecil yang dapat dibagi habis oleh 10, 12, 15, 20 dan 30.

waktu berlanjut terus dan berkembang dengan pesat hingga satu abad kemudian, Hipparchus memperkenalkan sistem longitude 360 derajat. Dan pada sekitar tahun 130 M, Claudius Ptolemy membagi tiap derajat menjadi 60 bagian. Bagian pertama disebut dengan partes minutae primae yang artinya menit pertama, bagian yang kedua disebut partes minutae secundae atau menit kedua, dan seterusnya. Walaupun ada 60 bagian, yang digunakan hanyalah 2 bagian yang pertama saja dimana bagian yang pertama menjadi menit, dan bagian yang kedua menjadi detik. Sedangkan sisa 58 bagian yang lainnya membentuk satuan waktu yang lebih kecil daripada detik.

Sistem waktu ini membutuhkan waktu berabad-abad untuk tersebar luas penggunaannya. Bahkan jam penunjuk waktu pertama yang menampilkan menit dibuat pertama kali pada abad ke-16. Sistem waktu ini digunakan hingga sekarang oleh kita manusia modern.

Itulah informasi dan pengetahuan yang dapat ARS Blog sampaikan berdasarkan beberapa sumber lainnya, semoga artikel yang ARS Blog buat ini bisa bermanfaat untuk para pengunjung setia, dan jangan lupa untuk tetap setia mengunjungi blog ini yang akan memberikan banyak pengetahuan dan informasi menarik lainnya untuk kalian semua ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved.ARSBLOG.ID | Newsphere by AF themes.