Karakteristik Remaja – ARSBLOG.ID
Sun. Sep 19th, 2021

ARSBLOG.ID

BERBAGI DAN MENGINSPIRASI

Karakteristik Remaja

6 min read


      1     Karakteristik Remaja
Masa remaja dimulai sekitar usia 10 hingga 13 tahun dan berakhir pada sekitar usia 18 hingga 22 tahun (Santrock 2007). Menurut Santrock (2002), ciri utama remaja meliputi pertumbuhan fisik yang pesat, kesadaran diri yang tinggi, dan selalu tertarik untuk mencoba sesuatu yang baru. Remaja bukanlah masa berakhirnya terbentuk kepribadian akan tetapi merupakan salah satu tahap utama dalam pembentukkan kepribadian seseorang.
Menurut Santrock (2003: 91) perubahan fisik yang terjadi pada remajaterlihat nampak pada saat masa pubertas yaitu meningkatnya tinggi dan berat badan serta kematangan sosial. Diantara perubahan fisik itu, yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi semakin panjang dan tinggi). Selanjutnya, mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh (Sarlito Wirawan Sarwono, 2006: 52).
Remaja banyak meluangkan waktunya bersama kawan-kawan sebaya. Disamping itu, remaja mulai banyak menerima informasi dari media massa yang sudah mulai dikenal dan dekat dengan mereka. Oleh karenanya, remaja menjadi individu yang terbuka terhadap hal-hal baru (Makgosa 2010). Banyaknya informasi yang diterima membuat remaja melakukan pemrosesan informasi secara lebih mendalam.
Pada masa remaja ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi karena remaja berada tidak terkendali, dan tampak irisional tetapi dari tahun ke tahun terjadi perbaikan perilaku emosional. Perbedaan perkembangan emosi pada anak- anak dan remaja terletak pada ungkapan emosi mereka. Remaja tidak lagi mengungkapkan amarahya dengan cara gerakan amarah yang meledak- ledak melainkan dengan cara menggerutu, tidak mau berbicara atau secara keras mengkritik orang- orang yang menyebabkan amarahnya.
1.      Hubungan dengan Teman Sebaya
Menurut Santrock (2003: 219) teman sebaya (peers) adalah anak-anak atau remaja dengan tingkat usia atau tingkat kedewasaan yang sama. Jean Piaget dan Harry Stack Sullivan (dalam Santrock, 2003: 220) mengemukakan bahwa anak-anak dan remaja mulai belajar mengenai pola hubungan yang timbal balik dan setara dengan melalui interaksi dengan teman sebaya. Mereka juga belajar untuk mengamati dengan teliti minat dan pandangan teman sebaya dengan tujuan untuk memudahkan proses penyatuan dirinya ke dalam aktifitas teman sebaya yang sedang berlangsung. Sullivan beranggapan bahwa teman memainkan peran yang penting dalam membentuk kesejahteraan dan perkembangan anak dan remaja. Mengenai kesejahteraan, dia menyatakan bahwa semua orang memiliki sejumlah kebutuhan sosial dasar, juga termasuk kebutuhan kasih saying (ikatan yang aman), teman yang menyenangkan, penerimaan oleh lingkungan sosial, keakraban, dan hubungan seksual.
Ada beberapa beberapa strategi yang tepat untuk mencari teman menurut Santrock (2003: 206) yaitu :

  • Menciptakan interaksi sosial yang baik dari mulai menanyakan nama, usia, dan aktivitas favorit.
  • Bersikap menyenangkan, baik dan penuh perhatian.
  • Tingkah laku yang prososial seperti jujur, murah hati dan mau bekerja sama.
  • Menghargai diri sendiri dan orang lain.
  • Menyediakan dukungan sosial seperti memberikan pertolongan, nasihat, duduk berdekatan, berada dalam kelompok yang sama dan menguatkan satu sama lain dengan memberikan pujian.
  • Ada beberapa dampak apabila terjadi penolakan pada teman sebaya. Menurut Hurlock (2000: 307) dampak negatif dari penolakan tersebut adalah :
  • Akan merasa kesepian karena kebutuhan social mereka tidak terpenuhi.
  • Anak merasa tidak bahagia dan tidak aman.
  • Anak mengembangkan konsep diri yang tidak menyenangkan, yang dapat menimbulkan
  •  penyimpangan kepribadian.
  • Kurang mmemiliki pengalaman belajar yang dibutuhkan untuk menjalani proses sosialisasi.
  • Akan merasa sangat sedih karena tidak memperoleh kegembiraan yang dimiliki teman sebaya mereka.
  • Sering mencoba memaksakan diri untuk memasuki kelompok dan ini akan meningkatkan
  • penolakan kelompok terhadap mereka semakin memperkecil peluang mereka untuk mempelajari berbagai keterampilan sosial.
  • Akan hidup dalam ketidakpastian tentang reaksi social terhadap mereka, dan ini akan menyebabkan mereka cemas, takut, dan sangat peka.
  • Sering melakukan penyesuaian diri secara berlebihan, dengan harapan akan meningkatkan penerimaan sosial mereka.

Sementara itu, Hurlock (2000: 298) menyebutkan bahwa ada beberapa manfaat yang diperoleh jika seorang anak dapat diterima dengan baik. Manfaat tersebut yaitu:

  •  Merasa senang dan aman.
  •  Mengembangkan konsep diri menyenangkan karena orang lain mengakui mereka.
  • Memiliki kesempatan untuk mempelajari berbagai pola prilaku yang diterima secara sosial dan keterampilan sosial yang membantu kesinambungan mereka dalam situasi sosial.
  • Secara mental bebas untuk mengalihkan perhatian meraka ke luar dan untuk menaruh minat pada orang atau sesuatu di luar diri mereka.
  • Menyesuaikan diri terhadap harapan kelompok dan tidak mencemooh tradisi sosial.

2.      Hubungan dengan Orang Tua
Menurut Steinberg (dalam Santrock, 2002: 42) mengemukakan bahwa masa remaja awal adalah suatu periode ketika konflik dengan orang tua meningkat melampaui tingkat masa anak-anak. Peningkatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu perubahan biologis pubertas, perubahan kognitif yang meliputi peningkatan idealism dan penalaran logis, perubahan sosial yang berfokus pada kemandirian dan identitas, perubahan kebijaksanaan pada orang tua, dan harapan-harapan yang dilanggar oleh pihak rang tua dan remaja.
Collins (dalam Santrock, 2002: 42) menyimpulkan bahwa banyak orang tua melihat remaja mereka berubah dari seorang anak yang selalu menjadi seseorang yang tidak mau menurut, melawan, dan menantang standar-standar orang tua. Bila ini terjadi, orang tua cenderung berusaha mengendalikan dengan keras dan member lebih banyak tekanan kepada remaja agar mentaati standar-standar orang tua.
      2     Remaja Sebagai Peserta Didik
Seperti halnya pertumbuhan dan perkembangan anak sebagai peserta didik, pada remaja sebagai salah satu tahap pertumbuhan dan perkembangan yang dilalui manusia, juga makna pertumbuhan dan perkembangan menunjuk kepada proses perubahan secara fisik dan psikis (jiwa) yang dialami oleh remaja khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).
Masalah pertumbuhan dan perkembangan remaja sebagai peserta didik juga perlu menjadi perhatian bagi para guru SMA, karena dengan bekal pengetahuan tentang pertumbuhan dan perkembangan remaja, para dapat menyesuaikan proses pembelajarannya sesuai dengan kebutuhan belajar remaja. Kebutuhan belajar remaja sebagai peserta didik akan difokuskan kepada pembahasan tentang kebutuhan belajar remaja secara psikologis yang membutuhkan proses pembelajaran atau pendidikan yang sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis mereka sebagai remaja.
Secara psikologis diketahui bahwa masa remaja adalah masa yang penuh gejolak dan goncangan jiwa bagi remaja. Gejolak dan goncangan jiwa terjadi karena remaja sedang dalam pencarian identitas diri dan menjalani masa eksplorasi yang menyebabkan para remaja ingin mencoba terhadap segala hal yang diketahui melalui proses membaca dan mengalami dalam kehidupannya sehari-hari di masyarakat.
Gejolak dan goncangan jiwa juga terjadi karena remaja sedang mengalami masa pubertas yang menyebabkan, dorongan seksual remaja sangat sensitif dan menuntut untuk disalurkan (dorongan kebutuhan id) yang bersifat instinktif.

Para guru di sekolah harus memahami tentang kondisi psikologis remaja dan menghadapi sikap dan perilaku remaja sebagai peserta didik secara edukatif dan persuasif. Selain itu, para guru di jenjang pendidikan SMA dan sederajat dapat mengadaptasikan proses pembelajarannya sesuai dengan karakteristik psikologis remaja dan kebutuhan belajar remaja.
Guru juga perlu memiliki wawasan pengetahuan dan pemahaman tentang: tugas-tugas perkembangan remaja, perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada diri remaja, perkembangan kognitif, perkembangan emosional, perkembangan sosial, dan perkembangan moral remaja (Philip, 1987). Pengetahuan dan pemahaman tersebut diharuskan sebagai dasar dalam menyusun program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar remaja. Dengan para guru di lembaga pendidikan perlu menyusun program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar dan kebutuhan psikologis remaja. Oleh karena itu, para guru harus dapat menerapkan strategi, metode, dan pendekatan pembelajaran di kelas yang sesuai dengan perkembangan psikologis, sosial, dan moral remaja.
Sebagai contoh untuk mewujudkan rasa ingin tahu besar pada diri remaja dan untuk membantu mengembangkan minat dan motivasi remaja untuk bereksplorasi, maka metode dan strategi pembelajaran yang tepat digunakan ialah metode dan strategi pembelajaran yang penyelidikan (inquiry dan discovery learning), studi lapangan atau observasi lapangan, dan lainnya dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses.
Melalui penerapan strategi metode, dan pendekatan pembelajaran tersebut, diharapkan remaja dapat menyalurkan energinya ke kegiatan belajar yang positif melalui kegiatan belajar dan kegiatan eksplorasi yang positif. Selain itu, pihak-pihak yang terkait lainnya, seperti pihak wali kelas, guru pembimbing atau konselor sekolah, psikolog, sosiolog, orangtua, kepala sekolah, dan masyarakat perlu juga ikut serta dalam proses pendidikan remaja di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Melalui kerjasama berbagai pihak tersebut, pihak guru dapat memberikan proses pendidikan yang optimal sesuai dengan karakteristik psikologis remaja dan sesuai kebutuhan belajar siswa dalam membantu remaja mencapai aktualisasi diri ke arah yang inovatif dan produktif demi untuk perkembangan mental, sosial, sikap, perilaku, dan moral remaja seoptimal mungkin.
Proses pendidikan yang diberikan oleh para guru kepada remaja sebagai genarasi muda haruslah berkualitas. Salah satu ciri dari pendidikan yang berkualitas ialah pendidikan yang mampu melahirkan sumber daya manusia yang konstruktif, kreatif, inovatif, dan produktif yang misioner dan visioner.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved.ARSBLOG.ID | Newsphere by AF themes.