Penyebab Banyaknya Kapal Hilang di Segitiga Bermuda – ARSBLOG.ID
Sat. Apr 17th, 2021

ARSBLOG.ID

BERBAGI DAN MENGINSPIRASI

Penyebab Banyaknya Kapal Hilang di Segitiga Bermuda

4 min read
Mungkin sebagian dari kita sudah mengetahui  tentang segitiga bermuda, segitiga bermuda atau banyak juga yang menyebutnya segitiga setan merupakan sebuah wilayah lautan yang terletak di kawasan Samudra Atlantik dengan luas 1,5 juta mil2 atau sekitar 4 juta km2 yang membentuk garis berbentuk segitiga yang membentang antara Bermuda, wilayah teritorial Britania Raya ini sebagai titik di sebelah utara, Puerto Riko, teritorial Amerika Serikat sebagai titik di sebelah selatan dan Miami, negara bagian Florida, Amerika Serikat sebagai titik di sebelah barat.
 Segitiga bermuda sangatlah misterius. bagaimana tidak, segitiga bermuda ini Sering disukan oleh banyak paranormal di daerah tersebut yang menyatakan bahwa alasan dari peristiwa hilangnya kapal yang melintas di wilayah tersebut merupakan ulah iblis. Ada pula yang mengatakan bahwa sudah menjadi gejala alam bahwa tidak boleh melintasi wilayah tersebut. Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa itu semua akibat ulah makhluk luar angkasa.

Kemudian baru-baru ini misteri mengenai hilangnya beberapa kapal laut dan pesawat terbang di wilayah yang disebut Segitiga Bermuda ini memunculkan sebuah teori baru yang bisa diterima dengan logika dan akal sehat. teori baru ini jauh dari kata pesawat luar angkasa alien, anomali waktu, piramida raksasa bangsa Atlantis, atau fenomena meteorologis lainnya.

bermuda
Menurut beberapa ahli menyatakan bahwa segitiga Bermuda merupakan sebuah fenomena gas akut biasa, pernyataan ini ditulis tulis Salem-News.com. Seperti yang kita ketahui bahwa gas alam sama seperti gas yang dihasilkan oleh air mendidih terutama gas metana. gas metana ini yang kemudian dijadikan penyebab utama di balik hilangnya beberapa pesawat terbang dan kapal laut di wilayah segitiga bermuda tersebut. Beberapa ahli masih mengkaji teori baru ini mengenai gas metana yang menjadi penyebab dari semua peristiwa yang terjadi di segitiga bermuda.

Terlepas dari kajian tersebut, bukti pun akhirnya diberikan terkait dengan penemuan yang membawa sudut pandang baru terhadap misteri yang menghantui dunia selama bertahun-tahun ini. Bukti tersebut tertuang dalam sebuah laporan American Journal of Physics.

bermuda
Professor Joseph Monaghan dengan ditemani oleh David May di Monash University, Melbourne, Australia. meneliti hipotesis itu bersama, yang kemudian dua hipotesis dari penelitian tersebut dikemukakan, dua hipotesis tersebut adalah balon-balon raksasa gas metana keluar dari dasar lautan yang menyebabkan sebagian besar (tidak mengatakan semua) kecelakaan misterius di lokasi itu.

Pada beberapa waktu sebelumnya Ivan T Sanderson sebenarnya telah berhasil mengidentifikasi zona-zona misterius selama tahun 1960-an. Sanderson bahkan mampu menggambarkan bagaimana sebenarnya zona-zona misterius itu, dan didapatkanlah bahwa zona segitiga bermuda itu lebih berbentuk seperti ketupat ketimbang segitiga.

Sanderson menemukan bahwa bukan saja Segitiga Bermuda tetapi Laut Jepang dan Laut Utara adalah dua area tempat kejadian misterius sering terjadi. diperkirakan apa yang terjadi di Jepang dan Laut Utara itu juga diseababkan oleh hal yang sama dengan segitiga bermuda yang ada.

Peristiwa ini membuat para Oseanograf melakukan penelitian langsung dan berusaha menguak apa yang terjadi dalam zona segitiga bermuda tersebut, dan didapatkanlah bahwa Para Oseanograf yang menjelajah di dasar laut Segitiga Bermuda dan Laut Utara, wilayah di antara Eropa daratan dan Inggris tersebut melaporkan bahwa mereka menemukan banyak sekali kandungan gas metana dan situs-situs bekas longsoran.

bermuda
Kemudian berangkat dari keterkaitan akan gas metana itu yang ditambah dengan berbagai data-data yang tersedia, dua peneliti itu kemudian menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi jika sebuah balon metana raksasa meledak dari dasar laut tersebut.

Metana yang biasanya membeku di bawah lapisan bebatuan bawah tanah, bisa keluar dan berubah menjadi balon gas yang membesar secara geometris ketika ia bergerak ke atas. Ketika mencapai permukaan air, balon berisi gas itu akan terus membesar ke atas dan ke luar. Teori ini yang kemudian telah berhasil diuji cobakan di laboratorium dan hasilnya memuaskan bagi beberapa orang yang penasaran tentang penjelasan yang masuk akal seputar misteri lenyapnya pesawat-pesawat dan kapal laut yang melintas di wilayah segitiga bermuda tersebut.

Menurut Bill Dillon dari U.S Geological Survey, air bercahaya putih itulah penyebabnya. Di daerah segitiga maut Bermuda dan juga di beberapa daerah lain sepanjang tepi pesisir benua, terdapat “tambang metana”. Tambang ini terbentuk jika gas metana menumpuk di bawah dasar laut yang tak dapat ditembusnya. Gas ini dapat lolos tiba-tiba ketika dasar laut retak. Lolosnya gas ini pun tidak kira-kira. Dengan kekuatan yang luar biasa, tumpukan gas itu menyembur ke permukaan sambil merebus air, membentuk senyawa metana hidrat. Air yang dilalui gas ini mendidih sampai terlihat seperti “air bercahaya putih”. Blow out serupa yang pernah terjadi di laut Kaspia sudah banyak menelan anjungan pengeboran minyak sebagai korban.

Regu penyelamat yang dikerahkan tidak menemukan sisa sama sekali. Mungkin karena alat dan manusia yang menjadi korban tersedot pusaran air, dan jatuh kedalam lubang bekas retakan dasar laut, lalu tanah dan air yang semula naik ke atas tapi kemudian mengendap lagi di dasar laut, menimbun mereka semua.

Setiap kapal yang terperangkap di dalam balon gas raksasa itu akan langsung goyah dan tenggelam ke dasar lautan. Jika balon itu cukup besar dan memiliki kepadatan yang cukup, maka pesawat terbang pun bisa dihantam jatuh olehnya.Pesawat terbang yang terjebak di balon metana raksasa, berkemungkinan mengalami keruskan mesin karena diselimuti oleh metana dan segera kehilangan daya angkatnya yang akhirnya akan masuk ke dasar laut tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved.ARSBLOG.ID | Newsphere by AF themes.