Fenomena Kandungan Listrik pada Bebatuan di Gunung Padang – ARSBLOG.ID
Tue. Apr 13th, 2021

ARSBLOG.ID

BERBAGI DAN MENGINSPIRASI

Fenomena Kandungan Listrik pada Bebatuan di Gunung Padang

3 min read
Baru-baru ini beberapa masyarakat kembali dibuat terkesima dengan adanya fenomena bebatuan di gunung padang yang diyakini mengandung listrik. setidaknya beberapa peniliti telah melakukan penelitian bertahun-tahun mengenai fenomena bebatuan yang mengandung listrik ini. bahkan beberapa waktu yang lalu kembali diadakan uji kelistrikan oleh beberapa peneliti beserta masyarakat untuk coba mengungkapkan fenomena tersebut.
uji kelistrikan batu gunung padang
Gambar di atas merupakan beberapa peneliti beserta masyarakat yang melakukan uji tes kelistrikan di hari Sabtu 4 April 2015 lalu, pada salah satu pecahan batuan terkecil di Gunung Padang, membuat banyak orang di lokasi situs tersebut menjadi takjub. hal ini dikarenakan pada salah satu bongkahan batuan terkecil di Gunung Padang tersebut, ketika dilakukan uji kelistrikan terhadap bongkahan itu menggunakan AVOmeter atau alat pengukur listrik. terlihat pada tampilan digital tertera angka yang menunjukkan besaran voltase yang terkandung dalam batuan tersebut.
Batu Gunung Padang itu mengandung listrik dan dibuktikan dengan besar tegangan DC sebesar 0,6 volt. Ternyata batu-batu itu benar-benar mengandung listrik. Kemudian dilakukanlah uji coba dengan menyusun batu-batu itu secara seri. Pada saat batu-batu Gunung Padang itu disusun dalam rangkaian seri, terlihat pada avometer, bahwa voltase dan arus listrik menjadi naik yaitu sebesar 1,2 volt dengan arus sebesar 2,3 ampere.

Tentu hal ini sangat menarik sekaligus menjadi misteri baru dari situs Gunung Padang Cianjur. Apakah jika ribuan batuan di Gunung Padang disusun lagi akan dapat menghasilkan listrik yang sangat besar? Dan apakah dapat membuktikan bahwa dahulunya Gunung Padang adalah sebuah reaktor pembangkit listrik berbasis Nano Teknologi atau Nanotech? tentu masih terlalu dini bagi kita menyimpulkan fenomena di atas, namun hal tersebut tidak menutup kemungkinan teruji dan terbukti kebenaannya apabila dilakukan penelitian lebih lanjut tentang batu-batu tersebut terkait dengan pembangkit listrik tenaga nanoteknologi.

Nanoteknologi sendiri merupakan manipulasi materi pada skala atomik dan skala molekular. Diameter atom berkisar antara 62 pikometer, sedangkan kombinasi dari beberapa atom membentuk molekul dengan kisaran ukuran nano. Deskripsi awal dari nanoteknologi mengacu pada tujuan penggunaan teknologi untuk memanipulasi atom dan molekul untuk membuat produk berskala makro. Sedangkan deskripsi yang lebih umum untuk Nanoteknologi adalah manipulasi materi dengan ukuran maksimum 100 nanometer.

Di Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mengembangkan nanoteknologi sejak tahun 2000-an namun belum mampu mengkomersilkannya. Hal yang paling mendasar dalam menghambat perkembangan teknologi nano di Indonesia adalah ketiadaan alat pengukuran (metrologi) nanomaterial. Kepala Pusat Inovasi LIPI menyatakan bahwa sudah 13 tahun pengembangan nanoteknologi di Indonesia berjalan sehingga tahap yang dituju sekarang adalah komersialisasi produk nanomaterial berbasis kegiatan riset.

batu kijang
 Lalu, bagaimana listrik dihasilkan dari teknologi nano ini?
Sebelumnya kita harus mengakui bahwa perkembangan nanoteknologi ini cukup pesat dan menjanjikan, sehingga seiring dengan perkembangan teknologi nano ini, beberapa grup riset yang fokus mengembangkan teknologi nano sudah mampu membuat sebuah divais dari struktur nano untuk menghasilkan arus listrik, medan electromagnetic, bahkan mampu mengeluarkan radiasi dalam orde subatomic. Divais atau alat berukuran nano ini yang dinilai mampu membangkitkan energi listrik tersebut kemudian disebut sebagai nano-generator.

Karena baru, maka riset tentang nano-generator baru dilakukan oleh beberapa grup yang berkecimpung di dunia nano. Salah satunya adalah grup riset dari Georgia Institute of Technology, mereka sedang mengembangkan sebuah prototip nano-generator yang menggunakan struktur benang nano (nanowire) untuk menghasilkan listrik ketika wire dalam ukuran nano tersebut bergetar.

Desain dari nanogenerator tersebut hingga saat ini masih menjadi objek riset dan masih berada dalam tahap pengembangan. Para ilmuwan memprediksikan bahwa nanogenarator akan diperkenalkan ke public sejak tahun 2010-2011. Hingga saat ini mayoritas dari perangkat elektronik yang portable (contoh: jam tangan, etc), energinya masih sangat tergantung pada baterai. Saat ini para ilmuwan sedang mengembangkan dan mendemonstrasikan bagaimana sebuah perangkat elektronik mudah dan praktis dalam suplai energinya. Hal tersebut dapat direalisasikan dengan metode pengembangkan teknologi benang nano (nanowire) dari bahan murah (ZnO) yang dapat memproduksi energy mekanik yang cukup untuk dikonversikan menjadi energy listrik.
bagaimana perkembangan dan realisasi dari program pengembangan teknologi nano ini? kita tunggu saja perkembangan dan jalan cerita dari para peneliti ini, dan kalaupun memang terbukti kebenarannya maka listrik akan diprediksi akan menjadi salah satu energi yang akan populer dimasa yang akan datang seiring dengan banyaknya ditemukan kandungan listrik pada objek-objek tertentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved.ARSBLOG.ID | Newsphere by AF themes.