Sejarah Perkembangan Nuklir di Indonesia – ARSBLOG.ID
Sat. Apr 17th, 2021

ARSBLOG.ID

BERBAGI DAN MENGINSPIRASI

Sejarah Perkembangan Nuklir di Indonesia

3 min read
Indonesia memang tidak begitu populer dibandingkan negara-negara semisal Iran, Korea Utara, Tiongkok, dan lainnya mengenai riset nuklir. Di Indonesia sendiri Nuklir masih menjadi perdebatan, karena memang keberadaannya sangat rentan. Beberapa ahli mendukung pembuatan dan pengembangan reaktor Nuklir di Indonesia, namun tak sedikit pula yang menolak pembangunan reaktor nuklir tersebut, karena dikhawatirkan dampak radiasinya yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia.
Namun, ternyata masalah nuklir ini sudah sejak zaman presiden Soekarno difikirkan, bahkan saat itu Soekarno membuat sebuah badan atau lembaga guna melakukan riset terkait Nuklir ini. Untuk lebih tahu sejarahnya, mari kita simak secara perlahan-lahan.
Sejarah lahirnya Nuklir di Indonesia ini dimulai sejak uji coba bom hidrogen (termo nuklir) Amerika Serikat di Kepulauan Marshall (Pasifik) pada sekitar tahun 1954, uji coba ini pun kemudian membuat Sukarno khawatir tentang wilayah Indonesia timur yang akan terkena dampak radiasi Nuklir tersebut, karena Soekarno paham betapa berbahayanya dampak radiasi Nuklir ini bagi kehidupan. dari sinilah kemudian Ia lalu mencari ahli radiologi dalam negeri untuk melakukan penyelidikan. Soekarno pun akhirnya mengeluarkan Keppres No 230/1954 tentang pembentukan Panitia Negara untuk Penjelidikan Radio-Aktivitet pada 23 November 1954. Panitia ini dipimpin oleh seorang ahli radiologi dalam negeri, G.A. Siwabessy, yang baru pulang studi di London.
berdasarkan kutipan dari historia, di ketahui bahwa “Tim lalu bergerak dengan prioritas tempat-tempat yang berdekatan dengan Samudera Pasifik, seperti Manado, Ambon, dan Timor. Hasil penyelidikan tim menyimpulkan, Indonesia aman dari dampak ujicoba bom AS.”
Selesai dengan tugas tersebut, tim kemudian menyarankan kepada pihak pemerintah untuk menaruh perhatian lebih besar kepada bidang pernukliran nasional. Upaya yang dilakukan oleh tim tersebut akhirnya menuaikan hasil yang cukup baik. Pemerintah akhirnya menyetujui untuk dibentuknya Dewan Tenaga Atom dan Lembaga Tenaga Atom (LTA).

lagi-lagi Siwabessy lah yang dipercaya menjadi direktur jenderal LTA, karena memang saat itu ahli radiologi khusunya nuklir di Indonesia masih sangat sedikt. setelah LTA ini dibentuk, mereka kemudian membuat blue print tentang pengembangan nuklir nasional. Selain memberi beasiswa kepada anak bangsa ke berbagai negara untuk mempelajari nuklir, LTA juga aktif berkeliling untuk satu tujuan, yaitu mempelajari nuklir. Berbagai kerjasama dengan pihak lain pun juga dijajaki, yang terpenting dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).  

atom nasional
Kerjasama yang dilakukan itu akhirnya membuat Indonesia memperoleh bantuan dari Amerika Serikat. teaptnya pada sekitar Juni tahun 1960, Indonesia akhirnya secara resmi menandatangani kerjasama bilateral di bidang nuklir dengan AS di bawah program “Atom for Peace”. dari hasil perjanjian ini, selain memberi dukungan dana sebesar 350 ribu US$ untuk pembangunan reaktor nuklir, dan 141 US$ untuk riset pengembangan. AS juga memperkenankan untuk mengirimkan tenaga ahlinya ke Indonesia untuk membantu perkembangan Nuklir nasional. Perjanjian ini pun sempat membuat berbagai pro dan kontra kala itu, namun, meski menuai pro-kontra, Indonesia berhasil membangun reaktor nuklir pertamanya, Triga-Mark II, pada April 1961.

Namun, selang beberapa lama kerjasama itu pun perlahan akhirnya berubah menjadi sebuah bentuk persaingan seiring berubahnya hubungan bilateral Indonesia-AS. Kematian Presiden John F. Kennedy membuat hubungan Indonesia-AS tak lagi mesra. Sukarno makin lantang mengkampanyekan perlawanan terhadap neokolonialisme dan imperialisme yang ditopang negeri-negeri tua seperti AS. hubungan ini pun makin diperparah sejak keberhasilan Tiongkok dalam ujicoba bom atom pertamanya pada 16 Oktober 1964.

Sejak keberhasilan Tiongkok itulah kemudian menginspirasi Soekarno untuk melakukan hal serupa dan Ia yakin bahwa Indonesia pun mampu meuwujudkannya. Menurut Sulfikar Amir dalam “The State and the Reactor: Nuclear Politics in Post-Suharto Indonesia,” dimuat jurnal Indonesia, ketertarikan Sukarno didorong oleh ancaman terhadap keamanan Indonesia setelah AS melancarkan Perang Vietnam dan Inggris menyokong pembentukan Federasi Malaysia. Selain itu, ini merupakan taktik Sukarno untuk memperoleh dukungan dari dua kubu politik dalam negeri yang terus berseteru, Angkatan Darat dan PKI.

Kekaguman Soekarno terhadap Tiongkok yang mampu melakukan uji coba nuklir ini membuat Soekarno secara diam-diam mengirim ahli-ahli nuklir nasional dan petinggi-petinggi militer Indonesia ke Tiongkok untuk mempelajari bagaimana mengembangkan dan membuat bom atom. Hal itu dia lakukan karena adanya perjanjian mengikat antara Indonesia dengan AS, yang tak membolehkan Indonesia berpaling dari AS dalam pengembangan nuklirnya. Amerika tak bisa menghentikan langkahnya kendati kemudian rencana besar itu redup seiring kejatuhan Sukarno pada 1965.

Sejak keredupan itulah perkembangan Nuklir di Indonesia dinilai cukup lambat dan sangat berhati-hati, banyak ketakutan yang timbul untuk mengembangkan Nuklir ini walau hanya untuk pembangkit listrik bukan untuk bom atom. Memang sampai saat ini pun pro dan kontra terkait pembangunan dan pengembangan nuklir di Indonesia masih terjadi. Terlepas dari itu semua, kita semoga kisah tentang perang menggunakan bom atom tidak akan pernah terjadi kembali di dunia ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved.ARSBLOG.ID | Newsphere by AF themes.